JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan komitmen Polri untuk terus bersinergi dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam menjaga ketertiban sosial, merawat toleransi antarumat beragama, serta mencegah potensi konflik yang dapat mengganggu stabilitas demokrasi di Indonesia.
Pertemuan antara Kapolri dan jajaran PP Muhammadiyah berlangsung pada Kamis, 29 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, Suyudi menekankan bahwa semangat amar makruf nahi mungkar menjadi landasan bersama yang menyatukan Polri dengan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia tersebut.
“Amar makruf nahi mungkar, bagaimana kita menebar kebaikan dan juga mencegah terjadi kejahatan. Ini adalah semangat yang digelorakan antara kami dan Muhammadiyah, dan ini akan kami lanjutkan,” kata Suyudi dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan silaturahmi ini bukan sekadar formalitas seremonial. Suyudi, yang baru saja mengemban jabatan sebagai Kapolri, datang dengan pesan yang jelas, melanjutkan dan memperkuat kerja sama yang telah dirintis oleh pimpinan Polri sebelumnya bersama Muhammadiyah.
Ia menyadari bahwa tugas menjaga keamanan tidak bisa diselesaikan semata-mata melalui pendekatan hukum dan penegakan aturan. Diperlukan langkah yang lebih humanis, membangun kedekatan dengan masyarakat, menyebarkan edukasi, serta menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini agar kehidupan berbangsa tetap kondusif.
Suyudi menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat hanya bisa terwujud ketika setiap warga negara saling menghargai perbedaan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, baik dari sisi agama, suku, maupun budaya, toleransi bukan sekadar nilai abstrak melainkan fondasi nyata bagi stabilitas nasional.
“Kita harus bahu-membahu menciptakan rasa toleransi antarumat beragama di Indonesia, sehingga Indonesia menjadi negara yang baik, saling menghargai, saling toleransi, sehingga situasi kamtibmas juga akan kondusif,” ujar Suyudi.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Polri dan Muhammadiyah selama ini memang telah membangun pola kerja sama yang konkret di lapangan, mulai dari program edukasi kerukunan, pendampingan komunitas, hingga upaya deteksi dini potensi konflik sosial di berbagai daerah.
Suyudi juga menegaskan bahwa dirinya sebagai pimpinan baru Polri akan memastikan kesinambungan program-program kolaborasi tersebut tidak terputus. Alih-alih memulai dari nol, ia memilih untuk melanjutkan dan memperdalam apa yang telah dibangun sebelumnya.
“Dan tentunya kami melanjutkan apa yang sudah dikomunikasikan, dikerjasamakan selama ini dari pimpinan yang sebelumnya. Kami sebagai pimpinan Polri yang baru, kami bersilaturahmi hari ini, kami juga memohon dukungan yang sama,” tegas Suyudi.
Langkah ini dinilai penting mengingat dinamika sosial-politik Indonesia yang terus bergerak. Di tahun-tahun belakangan, berbagai potensi gesekan sosial di sejumlah daerah menuntut kehadiran institusi negara yang tidak hanya berwibawa secara hukum, tetapi juga dekat dan dipercaya oleh masyarakat.
Muhammadiyah, sebagai organisasi kemasyarakatan dengan jutaan anggota yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, memiliki jaringan dan pengaruh yang sangat signifikan di akar rumput. Sinergi dengan organisasi ini memberi Polri akses terhadap jalur komunikasi sosial yang tidak bisa diraih melalui pendekatan formal semata.
Kolaborasi antara Polri dan Muhammadiyah juga mencerminkan pendekatan keamanan yang lebih modern, yakni keamanan yang berbasis partisipasi masyarakat sipil. Bukan sekadar pengawasan dari atas ke bawah, melainkan kemitraan yang dari kepercayaan dan nilai-nilai bersama.
Dalam konteks demokrasi yang terus berkembang, model kolaborasi semacam ini menjadi semakin relevan. Institusi keamanan yang mampu menggandeng tokoh-tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan akan lebih efektif dalam menciptakan iklim sosial yang damai dan stabil.
Ke depan, Kapolri Suyudi berharap sinergi ini tidak berhenti di tataran wacana dan silaturahmi semata. Ia ingin kolaborasi dengan Muhammadiyah benar-benar menghasilkan dampak nyata di masyarakat, khususnya dalam memperkuat ketahanan sosial menghadapi potensi disintegrasi dan polarisasi.
Bagi Polri, menggandeng Muhammadiyah adalah strategi keamanan jangka panjang. Bagi Muhammadiyah, kemitraan ini adalah bagian dari peran sosial keagamaan yang telah lama menjadi identitas organisasi, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.