Suyudi menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat hanya bisa terwujud ketika setiap warga negara saling menghargai perbedaan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, baik dari sisi agama, suku, maupun budaya, toleransi bukan sekadar nilai abstrak melainkan fondasi nyata bagi stabilitas nasional.

“Kita harus bahu-membahu menciptakan rasa toleransi antarumat beragama di Indonesia, sehingga Indonesia menjadi negara yang baik, saling menghargai, saling toleransi, sehingga situasi kamtibmas juga akan kondusif,” ujar Suyudi.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Polri dan Muhammadiyah selama ini memang telah membangun pola kerja sama yang konkret di lapangan, mulai dari program edukasi kerukunan, pendampingan komunitas, hingga upaya deteksi dini potensi konflik sosial di berbagai daerah.

Suyudi juga menegaskan bahwa dirinya sebagai pimpinan baru Polri akan memastikan kesinambungan program-program kolaborasi tersebut tidak terputus. Alih-alih memulai dari nol, ia memilih untuk melanjutkan dan memperdalam apa yang telah dibangun sebelumnya.

“Dan tentunya kami melanjutkan apa yang sudah dikomunikasikan, dikerjasamakan selama ini dari pimpinan yang sebelumnya. Kami sebagai pimpinan Polri yang baru, kami bersilaturahmi hari ini, kami juga memohon dukungan yang sama,” tegas Suyudi.



Follow Widget