Namun, efektivitas langkah ini sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan. Pemetaan yang akurat memerlukan kerja sama lintas satuan—dari Reserse Narkoba, Intelijen, hingga Bhabinkamtibmas yang menjadi ujung tombak kepolisian di tingkat desa dan kelurahan.

Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor kunci yang tidak bisa diabaikan. Informasi dari warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan kerap menjadi petunjuk awal yang tidak ternilai bagi aparat dalam mengungkap jaringan narkoba yang beroperasi secara terselubung.

Kapolri menegaskan tekadnya untuk membersihkan Indonesia dari cengkeraman narkoba yang disebutnya sudah semakin masif. Pernyataan itu bukan kali pertama terdengar dari seorang Kapolri, tetapi yang membedakan kali ini adalah adanya instruksi konkret dengan sasaran yang terukur—pemetaan wilayah dan penindakan langsung di lapangan.

Indonesia memang bukan negara yang baru berjibaku dengan masalah narkoba. Selama bertahun-tahun, berbagai upaya pemberantasan telah dilakukan, mulai dari eksekusi mati terhadap bandar kelas kakap, penyitaan aset, hingga kampanye rehabilitasi bagi para pengguna. Namun tantangannya tetap besar: jaringan narkoba terus beradaptasi, rute penyelundupan berubah, dan regenerasi pelaku berlangsung tanpa henti.

Di sinilah pentingnya pendekatan berbasis data seperti yang diperintahkan Kapolri. Dengan mengetahui secara persis di mana “sarang-sarang” narkoba berada, aparat bisa merancang strategi yang lebih efisien—tidak membuang energi pada kawasan yang relatif bersih, sementara daerah rawan justru terabaikan.



Follow Widget