Konteks geopolitik memperumit situasi. Sejak perang di Timur Tengah pecah pada akhir Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi pelayaran asing, menjadikan dirinya satu-satunya eksportir minyak besar yang masih beroperasi dari kawasan Teluk Persia. Kini, dengan blokade AS yang menyumbat jalur keluar, Teheran menghadapi ancaman ganda: pendapatan menguap sekaligus produksi yang bisa dipaksa turun.

Para analis JPMorgan Chase, dipimpin Natasha Kaneva, dalam catatan bertanggal 21 April menyimpulkan bahwa tekanan AS tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga fisik — membatasi volume minyak yang bisa bergerak, sehingga ruang manuver perdagangan alternatif menyempit drastis dan Iran pada akhirnya akan terpaksa memangkas produksi.

Namun para pengamat mengingatkan bahwa proses itu tidak akan terjadi dalam semalam. Lembaga riset energi FGE NexantECA memperkirakan Iran masih memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 90 juta barel dan mampu mempertahankan laju produksi saat ini — sekitar 3,5 juta barel per hari — setidaknya dua bulan ke depan meski tidak ada satu barel pun yang berhasil diekspor.

Strategi mengisi penuh kapal tanker itulah yang kini menjadi kartu waktu Teheran. “Itu memberi mereka sedikit kelegaan agar tidak kehabisan ruang simpan untuk sementara waktu,” kata Miad Maleki, mantan pejabat Departemen Keuangan AS bidang sanksi yang kini menjadi peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies.



Follow Widget