Summarize the post with AI
Drama Buka-Tutup dalam Hitungan Jam
Di tengah krisis diplomatik itu, Selat Hormuz justru menjadi panggung manuver geopolitik yang bergerak cepat. Dalam rentang waktu hanya beberapa jam, selat yang menjadi urat nadi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia itu sempat dibuka, lalu ditutup kembali oleh Iran.
Juru bicara markas besar Pusat Khatam Al-Anbiya, Ibrahim Zulfagari, menyatakan bahwa selat tersebut dikembalikan ke “keadaan semula” dan akan tetap tertutup selama Amerika Serikat memblokade kapal-kapal yang berlayar di sana. Komando Pusat AS sendiri merilis rekaman video yang memperlihatkan operasi pemblokadean, di mana kapal-kapal yang memasuki atau keluar dari pelabuhan Iran diarahkan paksa menuju Teluk Oman.
Presiden Donald Trump merespons dengan nada menantang, menyebut langkah Iran sebagai upaya pemerasan dan menegaskan Washington tidak akan mundur.
Analis: Iran Bertahan, Bukan Memulai
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran periode 2012—2016, Dian Wirengjurit, menilai dinamika ini tidak bisa dibaca secara hitam-putih. Menurutnya, Iran adalah negara yang berwatak defensif — membuka selat ketika situasi kondusif, dan menutupnya ketika merasa terancam.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.