Ada pula catatan soal jenis minuman. Air terlalu dingin sebaiknya dihindari karena dapat menekan sensasi haus lebih cepat, menciptakan persepsi seolah tubuh sudah cukup cairan padahal belum. Ini berpotensi membuat jemaah justru minum lebih sedikit dari yang dibutuhkan.

Teh dan kopi, dua minuman yang cukup umum dikonsumsi jemaah, juga perlu dibatasi. Keduanya bersifat diuretik, artinya merangsang ginjal membuang cairan lebih cepat. Mengonsumsinya secara berlebihan di tengah cuaca panas justru mempercepat kehilangan cairan tubuh, bukan menggantinya.

Indikator paling mudah untuk memantau kondisi hidrasi adalah warna urine. Urine berwarna bening hingga kuning muda menandakan kecukupan cairan yang baik. Sebaliknya, urine yang mulai berwarna kuning pekat atau bahkan kemerahan adalah sinyal darurat bahwa tubuh membutuhkan asupan air segera.

Muhammad Fathi Banna Al Faruqi menganalogikan pola minum ini dengan prinsip ibadah yang sudah dikenal luas di kalangan jemaah: amalan yang paling utama adalah yang rutin meskipun sedikit. Prinsip yang sama berlaku untuk minum—rutin dan teratur jauh lebih bermanfaat daripada banyak sekaligus namun tidak konsisten.