Zona kedua adalah Agrowisata Kopi dan Kakao. Di sini, peserta diperkenalkan pada proses panjang yang dilalui biji kopi dan kakao—dari pohon hingga menjadi produk siap saji yang kita nikmati setiap hari. Zona ini membuka wawasan bahwa di balik secangkir kopi pagi hari, terdapat proses pertanian yang panjang dan penuh keterampilan.
Zona ketiga, Urban Farming, menjawab tantangan zaman: bagaimana bertani di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Konsep ini semakin relevan seiring meningkatnya urbanisasi di Indonesia. Peserta mendapat gambaran nyata bahwa bertani bukan hanya urusan pedesaan—halaman sempit pun bisa menjadi lahan produktif dengan pendekatan yang tepat.
Sementara itu, zona keempat yakni Agropastoral Jagung dan Ternak memperlihatkan keterkaitan antara tanaman pangan dan peternakan. Peserta diajak memahami bagaimana dua sektor ini saling mendukung dalam ekosistem pertanian yang berkelanjutan—sebuah pendekatan yang kian relevan di tengah isu ketahanan pangan nasional.
Begitu memasuki zona, koordinator langsung membagi peserta ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kemudian berkeliling mengunjungi booth-booth yang dijaga oleh instruktur. Formatnya dirancang agar tidak satu arah—peserta tidak hanya duduk mendengar, tetapi aktif bertanya dan berdiskusi.
Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang paling diantisipasi peserta. Di sinilah rasa ingin tahu Pramuka Penggalang tersalurkan langsung kepada para ahli di bidangnya. Interaksi ini menciptakan pengalaman belajar yang jauh lebih berkesan dibanding sekadar membaca buku teks di dalam kelas.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.