Pesan itu terasa relevan di tengah tantangan global soal ketahanan pangan. Indonesia, dengan kekayaan alam yang melimpah, masih menghadapi berbagai persoalan mulai dari distribusi yang tidak merata hingga ketergantungan pada impor di beberapa komoditas strategis. Gerakan Pramuka ingin hadir sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar pelengkap seremonial.

Lebih dari sekadar seruan, Budi Waseso menekankan pentingnya budaya produktif yang ditanamkan sejak dini. Ia ingin Pramuka bukan hanya sebagai organisasi dengan berbagai kegiatan seru, tetapi sebagai gerakan yang secara nyata berkontribusi pada kemandirian dan ketahanan bangsa. Kepedulian terhadap pangan, menurutnya, adalah bentuk cinta tanah air yang paling konkret.

Kepada para peserta yang akan kembali ke daerah masing-masing, Budi Waseso berpesan agar mereka tampil sebagai pelopor di komunitas mereka. Menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, dan merawat perdamaian adalah tiga hal yang ia titipkan secara khusus. Tiga hal sederhana, namun berdampak besar jika dilakukan secara konsisten dan meluas.

Semangat persaudaraan yang terbangun selama tujuh hari di Cibubur juga menjadi sorotan. Jambore Nasional XII berhasil mempertemukan keberagaman Indonesia dalam satu suasana yang hangat dan penuh keakraban. Perbedaan suku, budaya, bahasa daerah, dan latar belakang sosial-ekonomi justru menjadi kekuatan, bukan penghalang. Satu Indonesia, satu Pramuka, satu tekad—kalimat itu bergema di lapangan upacara penutupan.

Apresiasi setinggi-tingginya juga disampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan hajatan nasional ini. Pemerintah pusat dan daerah, berbagai kementerian dan lembaga negara, TNI dan Polri, tenaga kesehatan, relawan, kalangan dunia usaha, media massa, hingga para orang tua peserta—semuanya disebut sebagai bagian dari keberhasilan bersama.



Follow Widget