Warga dari Distrik Morehead, Papua Nugini—wilayah yang secara geografis paling dekat dengan Sota—memang bukan orang asing di kawasan ini. Mereka terbiasa menyeberang untuk berbelanja kebutuhan pokok, memanfaatkan kedekatan jarak yang sudah terjalin bertahun-tahun. Namun kunjungan kali ini berbeda. Bukan beras dan gula yang mereka cari. Ketika salah satu dari mereka ditanya alasan kedatangannya, jawabannya singkat dan tanpa basa-basi: ia datang untuk merayakan kemerdekaan.

Tidak ada narasi heroik. Tidak ada pidato panjang soal solidaritas lintas batas. Hanya kalimat polos yang, justru karena kesederhanaannya, terasa lebih menyentuh dari banyak unggahan seremonial yang memenuhi linimasa setiap tanggal 17 Agustus.

Di sinilah ironi itu mulai terasa menggigit. Di kota-kota besar Indonesia, upacara bendera kerap berubah menjadi rutinitas administratif yang ingin diselesaikan secepatnya. Pegawai berdiri di barisan paling belakang, menunggu lagu kebangsaan usai agar bisa segera kembali ke meja kerja. Umbul-umbul dipasang oleh petugas kelurahan, bukan oleh warga secara sukarela. Lomba tujuh belasan diikuti, tapi yang merekamnya untuk konten media sosial kadang lebih banyak dari yang benar-benar menikmati acaranya.

Sementara itu, di ujung timur nusantara, orang-orang yang tidak memiliki KTP Indonesia, tidak pernah membayar pajak ke negara ini, tidak pernah ikut memilih dalam pemilu mana pun—justru rela mengayuh sepeda selama dua hari penuh demi bisa berdiri di bawah bendera Merah Putih.

Dua hari. Bukan dua jam. Bukan dua jam kemacetan di jalan tol yang biasa kita keluhkan. Dua hari mengayuh sepeda di medan perbatasan.



Follow Widget