Untuk menanggulangi kekeringan, BMKG menjalankan operasi modifikasi cuaca secara aktif. Program ini dilaksanakan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta sejumlah mitra dari sektor swasta. Targetnya adalah mengisi waduk-waduk strategis di berbagai wilayah.
Indonesia tercatat memiliki 240 waduk. BMKG tidak berambisi mengisi semuanya — melainkan memprioritaskan waduk-waduk yang paling krusial untuk menopang kebutuhan air irigasi, air bersih, serta pembangkit listrik tenaga air. Pendekatan ini dinilai lebih efisien dan tepat sasaran di tengah keterbatasan sumber daya.
Di front karhutla, BMKG menetapkan enam provinsi sebagai prioritas pengawasan ketat: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Keenam wilayah ini memiliki hamparan lahan gambut yang luas — jenis tanah yang paling rentan terbakar ketika musim kemarau panjang melanda.
Operasi modifikasi cuaca di kawasan gambut dilakukan secara berkala dengan tujuan menjaga kelembapan tanah. Gambut yang lembap jauh lebih sulit terbakar dibanding gambut yang kering dan berpori. Strategi ini pernah terbukti efektif pada El Niño sebelumnya dan kini kembali diandalkan.
Sementara dari sisi koordinasi pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan seluruh jajaran agar tidak lengah. El Niño bukan fenomena statis — intensitasnya bisa terus meningkat, dan dampaknya bisa meluas lebih dari yang diperkirakan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.