Para pengungsi kini tersebar di tiga titik penampungan. Sebagian besar, yakni 367 jiwa, berlindung di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah-rumah warga sekitar yang tidak terdampak. Sebanyak 250 jiwa menempati Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah, sementara 55 jiwa lainnya bertahan di Warung Jembatan Guo. Ketiganya menjadi tempat berteduh sementara bagi warga yang kehilangan kenyamanan rumah mereka.

Pemerintah bergerak paralel dalam memenuhi kebutuhan mendasar para pengungsi. Lima ratus bungkus nasi telah disalurkan untuk memastikan warga tidak kelaparan di tengah situasi darurat. BPBD Kota Padang menambahkan 100 lembar selimut untuk menghangatkan tubuh warga yang menggigil akibat basah kuyup dan angin malam.

Bantuan logistik lebih lanjut datang dari Dinas Sosial Kota Padang. Sebanyak 23 dus mi instan, 30 paket makanan khusus anak, 30 paket perlengkapan keluarga atau family kit, 16 paket pakaian anak, serta 30 unit kasur didistribusikan ke wilayah Koto Tangah dan Kuranji. Distribusi dilakukan berdasarkan kebutuhan lapangan dan koordinasi antar instansi agar bantuan tepat sasaran.

Respons Polri tak kalah masif. Polda Sumatera Barat mengerahkan ratusan personel ke sejumlah titik banjir, termasuk Perumahan Lumin Park, Kuranji, Goa, dan Sungai Lareh. Satuan yang diturunkan mencakup Brimob, Direktorat Samapta, Direktorat Polisi Perairan dan Udara, Polresta Padang, unsur SAR, hingga Basarnas—sebuah pengerahan kekuatan yang menunjukkan betapa seriusnya situasi di lapangan.

Seluruh warga di kawasan yang ditangani Polri berhasil dievakuasi dengan selamat. Hingga laporan terakhir disampaikan, tidak ada korban jiwa yang tercatat—sebuah kabar lega di tengah kondisi darurat yang menegangkan.



Follow Widget