BANDA ACEH, PUNGGAWANEWS – Peringatan Hari Damai Aceh yang seharusnya berlangsung khidmat di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, berubah menjadi kekacauan pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Ribuan massa dari kalangan anak-anak syuhada dan berbagai elemen masyarakat Aceh turun ke jalan, dan situasi pun tak lagi terkendali.
Kegiatan bermula dari aksi pengibaran bendera bulan bintang di sejumlah tiang di kawasan kompleks masjid kebanggaan rakyat Aceh itu. Ribuan peserta hadir dari berbagai daerah di Provinsi Aceh, membawa semangat peringatan dua dekade perdamaian yang mereka anggap hak untuk dirayakan secara terbuka.
Suasana mulai memanas ketika sebagian peserta aksi berupaya memasang bendera bulan bintang pada salah satu tiang di kompleks Masjid Raya Baiturrahman. Petugas TNI yang berjaga di lokasi melarang keras tindakan tersebut. Larangan inilah yang menjadi titik awal dari serangkaian insiden yang kemudian terjadi.
Untuk membubarkan dan menghalau massa, petugas menembakkan beberapa kali tembakan peringatan ke udara. Dentuman tembakan itu sempat membuat suasana beku sesaat — sejumlah orang di halaman masjid sontak terdiam dan menghentikan langkah.
Namun, alih-alih menciptakan ketenangan, suara tembakan justru menyulut amarah massa. Sebagian peserta aksi bergerak mengejar aparat TNI yang berjaga di luar pagar masjid hingga ke depan Gedung DPRK Banda Aceh. Kelompok lainnya bergerak ke arah simpang Qodim, salah satu titik strategis di pusat kota.
Di tengah kekacauan itu, massa melemparkan batu, kayu, dan berbagai benda lainnya ke arah aparat. Aksi pelemparan berlangsung di beberapa titik, membuat petugas gabungan harus mengambil langkah lebih keras untuk memecah kerumunan.
Aparat gabungan kemudian menembakkan gas air mata guna membubarkan massa yang terus bergerak. Kepulan asap gas air mata memaksa kerumunan mundur dan berlari menjauh, sebagian besar kembali ke arah Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi titik kumpul utama.
Situasi semakin memburuk ketika massa yang marah membakar sebuah sepeda motor dinas milik anggota TNI yang terparkir di dekat halaman masjid. Motor tersebut terbakar habis. Aksi pembakaran itu menjadi simbol puncak kemarahan massa pada hari yang seharusnya menjadi perayaan perdamaian.
Insiden tersebut menyebabkan sejumlah orang mengalami luka-luka. Salah seorang korban diketahui mengalami luka di bagian kepala dan harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti luka yang diderita korban belum dapat dipastikan.
Setelah aparat meninggalkan lokasi, situasi di sekitar masjid berangsur-angsur mulai mereda. Massa masih bertahan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman sambil terus menyuarakan protes atas pelarangan pengibaran bendera bulan bintang yang menjadi pemicu kerusuhan.
Di lokasi kejadian, sejumlah selongsong peluru ditemukan berserakan di atas aspal jalan setelah rentetan tembakan peringatan terdengar. Temuan ini menjadi bukti nyata betapa tegangnya situasi yang terjadi pada hari peringatan damai yang justru berakhir dengan kericuhan.
Dikutip dari Serambinews, peristiwa ini menjadi sorotan luas dan memantik berbagai reaksi dari publik Aceh maupun nasional. Banyak pihak menyayangkan peringatan Hari Damai yang semestinya menjadi momen rekonsiliasi dan refleksi bersama justru diwarnai konfrontasi antara massa dan aparat.
Hari Damai Aceh sendiri diperingati setiap 15 Agustus, merujuk pada penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005. Perjanjian bersejarah itu mengakhiri konflik bersenjata panjang yang telah merenggut ribuan nyawa di Bumi Serambi Mekah.
Dua puluh satu tahun setelah perdamaian itu tercapai, bendera bulan bintang masih menjadi isu sensitif yang membelah pandangan antara sebagian masyarakat Aceh yang menganggapnya sebagai simbol identitas dan budaya lokal, serta pihak-pihak yang menilai pengibarannya berpotensi melanggar koridor hukum yang berlaku.
Insiden di Banda Aceh ini menjadi pengingat keras bahwa meski konflik bersenjata sudah lama berakhir, luka-luka sejarah dan ketegangan identitas di Aceh belum sepenuhnya sembuh. Peringatan Hari Damai yang berujung ricuh ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak — pemerintah, aparat keamanan, maupun elemen masyarakat Aceh — agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang.
FAQ
Apa yang memicu kericuhan pada peringatan Hari Damai Aceh 2026?
Kericuhan dipicu oleh pelarangan pengibaran bendera bulan bintang oleh aparat TNI, yang kemudian diikuti tembakan peringatan ke udara dan menyulut kemarahan massa.
Apakah ada korban dalam insiden di Masjid Raya Baiturrahman tersebut?
Ya, sejumlah orang mengalami luka-luka. Salah satu korban mengalami luka di kepala dan harus dilarikan ke rumah sakit, namun penyebab pastinya belum diketahui.
Apa makna Hari Damai Aceh yang diperingati setiap 15 Agustus?
Hari Damai Aceh memperingati penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 antara pemerintah Indonesia dan GAM, yang mengakhiri konflik bersenjata panjang di Aceh.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.