Ironisnya, Magetan bukan daerah yang kekurangan kapasitas. Daerah ini diperkirakan menghasilkan sekitar 81 ton telur, dengan sekitar 40 persen untuk kebutuhan lokal dan sisanya dikirim ke luar daerah. Produksi besar yang tak diimbangi serapan pasar yang kuat hanya menghasilkan satu hal: surplus yang berubah menjadi beban.
Di sinilah inti masalahnya. Peternak tidak sedang menghadapi permintaan yang anjlok. Mereka menghadapi sesuatu yang lebih pelik: produksi melimpah, tapi harga tak ikut naik. Dan sementara harga boleh jatuh, ayam tidak bisa diminta berpuasa. Pakan harus ada setiap hari. Kandang harus dirawat. Pekerja harus dibayar. Obat, listrik, dan angkutan tak kenal kondisi pasar.
Kementerian Pertanian pernah menyebut bahwa ketergantungan terhadap pakan dalam industri ayam petelur bisa mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi. Ketika harga jual turun sementara komponen terbesar biaya produksi tetap berjalan, peternak sedang dipukul dari dua arah sekaligus. Dari sisi pendapatan yang menyusut, dan dari sisi pengeluaran yang tak bisa dikompres.
Yang membuat situasi ini terasa semakin berat adalah kontradiksi besar yang ada di depan mata. Di satu sisi, pemerintah sedang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam skala nasional. Program ini membutuhkan telur dalam jumlah sangat besar. Ketika MBG berjalan penuh, kebutuhan telur diperkirakan bisa mencapai sekitar 82,9 juta butir per hari. Angka yang, di atas kertas, seharusnya menjadi pasar raksasa bagi peternak lokal.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.