Operasi pencarian dan pertolongan dilaksanakan secara terpadu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI, Polri, serta relawan dari berbagai elemen masyarakat. Mereka bergerak dalam satu komando, menyisir lokasi demi lokasi dengan peralatan pencarian dan alat berat.
Konsep golden hour atau jam emas menjadi panduan utama operasi ini. Dalam dunia penanganan bencana, 72 jam pertama sejak kejadian adalah periode paling kritis karena peluang menemukan korban selamat masih cukup tinggi. Tim penyelamat bekerja tanpa henti, bahkan saat malam tiba, untuk memaksimalkan setiap menit yang tersisa dalam jendela emas itu.
“Sampai saat ini tim terus bekerja di lapangan. Kami berharap dengan memanfaatkan golden hour dalam 72 jam sejak kejadian, kami bisa menyelamatkan dan mengevakuasi seluruh korban yang terdampak bencana,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan pihak tim SAR gabungan kepada Metro TV.
Pukul 18.30 WIB menjadi penanda pembaruan data terkini yang diterima dari lapangan. Pada saat itu, angka total korban dikonfirmasi berada di angka 90 orang, dengan rincian 40 meninggal dan 50 luka-luka. Data ini bisa terus bergerak seiring dengan perkembangan operasi SAR di lapangan.
Gempa sebesar 7,7 magnitudo bukan guncangan yang remeh. Skala tersebut termasuk dalam kategori gempa besar yang mampu merobohkan bangunan, memicu longsor, dan memutus akses jalan di wilayah pegunungan seperti yang ada di NTT. Kondisi geografis Nusa Tenggara Timur yang berbukit dan sebagian besar terdiri dari pulau-pulau kecil menambah kompleksitas penanganan bencana.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.