BRUSSELS, PUNGGAWANEWS — Angin perubahan berhembus kencang dari Eropa. Satu per satu pemimpin benua itu mengambil langkah yang sebelumnya hanya berupa wacana: menjadikan Benjamin Netanyahu sebagai subjek hukum internasional yang sesungguhnya, sekaligus mengguncang fondasi kemitraan strategis Uni Eropa dengan Israel yang telah terbangun lebih dari dua dekade.
Perdana Menteri Hungaria terpilih, Peter Magier, menjadi salah satu suara paling lantang. Ia secara terbuka menyatakan kesiapan negaranya untuk menangkap Netanyahu jika sang pemimpin Israel menginjak tanah Hungaria. Pernyataan itu bukan retorika kosong. Magier mendasarkan sikapnya pada surat perintah penangkapan yang telah dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang terhadap Netanyahu.
Lebih jauh, Magier membalikkan kebijakan pendahulunya. Di bawah Viktor Orbán, Hungaria menarik diri dari ICC pada 2025 sebagai bentuk perlawanan terhadap perintah penangkapan tersebut. Kini, Magier menegaskan Hungaria kembali tunduk pada hukum internasional dan tidak akan berkompromi.
Tekanan serupa datang dari Belgia. Menjelang pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Luksemburg, Menteri Luar Negeri Belgia Maxim Prevot menilai respons militer Israel terhadap Lebanon telah melampaui batas proporsionalitas dan mengorbankan terlalu banyak warga sipil. Prevot mendorong penghentian sebagian perjanjian Asosiasi UE-Israel sebagai instrumen tekanan politik yang konkret.
Suara Belgia berpadu dengan sikap Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang lebih dahulu mendesak Uni Eropa memutus hubungan dagang dengan Israel. Ini bukan tuntutan kecil. Selama lebih dari dua puluh tahun sejak perjanjian asosiasi ditandatangani pada 2000, Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar Israel. Kini kemitraan itu berada di persimpangan.
Sanchez juga melancarkan kritik keras terhadap operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, hingga keterlibatannya dalam konflik dengan Iran. Menurutnya, perang yang dipicu Israel tidak hanya merenggut ribuan nyawa, tetapi juga memicu gelombang pengungsian massal di seluruh kawasan Timur Tengah dan kerugian ekonomi yang nilainya mencapai miliaran euro, yang pada akhirnya paling dirasakan oleh rakyat biasa.
Dalam pentas geopolitik yang lebih luas, Spanyol juga menolak dilibatkan dalam operasi militer terhadap Iran dan mendorong China untuk memainkan peran lebih besar dalam meredam eskalasi konflik yang dinilai mengancam stabilitas global.
Dari Budapest hingga Madrid, dari Brussels hingga Luksemburg, satu garis merah tengah ditarik oleh Eropa: tekanan terhadap Israel dan Netanyahu kini bukan lagi sekadar pernyataan diplomasi, melainkan langkah politik yang sedang bergerak menuju konsekuensi nyata.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.