Pernyataan itu terdengar diplomatik, memang. Tapi di baliknya ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ruang dialog ini benar-benar terbuka lebar, ataukah hanya selebar kebijaksanaan komandan di lapangan?

Pertanyaan itu penting. Karena selama bertahun-tahun, Papua menjadi arena tarik ulur yang melelahkan antara keinginan Jakarta untuk menjaga keutuhan wilayah dan aspirasi sebagian warganya yang merasa belum sepenuhnya didengar. Ikrar enam orang ini tidak lantas menutup luka itu — namun ia memberi isyarat bahwa celah selalu ada, jika mau dicari.

Satgas Koops TNI Habema memang bukan nama baru dalam dinamika keamanan Papua. Namun pendekatan yang mereka terapkan kali ini — lebih banyak bicara, lebih sedikit senjata — mencerminkan pergeseran yang patut dicatat. Dialog persuasif, keterlibatan tokoh adat dan agama, serta perhatian pada nasib personal seperti pendidikan Erison, menunjukkan bahwa ada upaya nyata untuk keluar dari pola lama.

Tentu saja, skeptisisme tetap sah. Enam orang yang berikrar setia dari total anggota dan simpatisan KKB yang tersebar di berbagai pelosok Papua adalah angka yang kecil. Dan keberhasilan pendekatan humanis tidak bisa diukur hanya dari jumlah orang yang menyerahkan diri — melainkan dari seberapa tahan perdamaian itu bertahan setelah kamera mati dan perhatian publik beralih.

Yang jelas, momen di Sugapa dan Beoga itu nyata. Enam orang memilih pulang. Keluarga mereka menitipkan harapan. Dan di antara kata-kata resmi yang disampaikan para pejabat, ada doa kecil dari seorang ibu yang ingin anaknya duduk di bangku sekolah alkitab — bukan lagi di hutan dengan senjata di punggung.



Follow Widget