Yang menyentuh bukan hanya keputusan Erison, melainkan reaksi keluarganya. Mereka menyampaikan terima kasih atas pendekatan yang dinilai manusiawi dari pihak TNI. Lebih dari itu, keluarga berharap Erison bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Alkitab — sebuah harapan sederhana yang selama ini mungkin terasa terlalu jauh dari jangkauan.
Prosesi ikrar setia bukan sekadar formalitas administrasi. Ada penandatanganan surat pernyataan, ada penghormatan kepada Bendera Merah Putih, ada ciuman pada kain kebangsaan itu, dan ada doa bersama yang mengakhiri semuanya dalam ketenangan. Sebuah ritual kecil yang menyimpan makna besar bagi mereka yang menyaksikannya langsung.
Hadir menyaksikan momen tersebut adalah unsur TNI, perwakilan pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, serta warga setempat. Dalam konteks Papua yang kerap digambarkan penuh konflik, pemandangan semacam ini memiliki bobot tersendiri.
Kapuspen TNI Mayjen Muhammad Nas menegaskan bahwa pendekatan humanis bukan sekadar strategi musiman. Ini adalah komitmen jangka panjang yang terus dijalankan di lapangan, jauh dari sorotan kamera dan panggung pernyataan resmi.
“TNI mengajak dan membuka ruang bagi anggota maupun simpatisan OPM yang ingin kembali ke pangkuan NKRI dan menjalani kehidupan yang damai serta bersama-sama dengan masyarakat lainnya membangun Papua,” ujar Nas dalam keterangannya, Kamis, 10 September 2026.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.