CIANJUR, PUNGGAWANEWS – Di sebuah klinik di Cianjur, Jawa Barat, seorang dokter menjalankan praktik yang tak lazim sekaligus menggetarkan hati: pasien boleh membayar biaya pengobatan sesuai kemampuan mereka, bahkan jika yang mereka punya hanya doa, sayuran, atau seekor ayam kampung.
Dokter tersebut memulai praktiknya sejak 2008, dari ruangan kecil berukuran 3×4 meter. Kini kliniknya telah berkembang menjadi fasilitas dengan luas lebih dari 2.000 meter persegi, dua lantai, dua cabang, dan dilengkapi ruang rawat inap berkapasitas 20 kamar.
Konsep yang ia terapkan dinamakan Ijab Kabul—sebuah istilah yang biasa dikenal dalam pernikahan, namun di sini dimaknai sebagai kesepakatan antara dokter dan pasien soal biaya pengobatan. Pasien menentukan sendiri besaran yang sanggup mereka bayar, dan dokter menerimanya dengan lapang dada.
“Tidak ada kata mahal di sini,” ujar sang dokter. Baginya, setiap orang berhak mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus terbebani biaya yang melampaui kemampuan mereka.
Mekanisme ijab kabul ini berjalan sejak pasien mendaftar. Di loket pendaftaran, pasien ditanya kesanggupan membayar: bisa Rp150 ribu, Rp50 ribu, Rp20 ribu, bahkan nol rupiah. Tidak ada penghakiman, tidak ada penolakan.
Bagi yang benar-benar tidak memiliki uang, klinik ini menyediakan program khusus bernama RIDO (Rawat Inap Dibayar Doa). Pasiennya cukup memanjatkan empat doa: untuk kesembuhan diri sendiri, untuk kesehatan dokter dan staf, untuk seluruh pasien yang berobat, dan untuk keberkahan klinik. Itu saja, tanpa syarat lain.
Ada pula program Pepaya Merah, yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap bisa mengakses layanan kesehatan berkualitas tanpa hambatan ekonomi.
Uniknya, klinik ini juga menerima pembayaran dalam bentuk natura. Beberapa pasien pernah membawa sayuran segar, buah-buahan, hingga ayam hidup yang dimasukkan ke dalam kardus. Semua diterima dengan senyum. Subsidi silang menjadi tulang punggung sistem ini: pasien yang mampu membayar lebih, secara tidak langsung menanggung sebagian biaya pasien yang tidak mampu.
Sang dokter juga menegaskan bahwa ia bukan pegawai negeri dan tidak memiliki penghasilan lain. Klinik ini dibiayai sebagian dari hasil pengelolaan rumah kos yang ia miliki, yang kabarnya memiliki ribuan kamar.
Dalam pandangannya, semangat pelayanan ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang ia pegang teguh. Ia bahkan menyindir praktik dokter yang terikat dengan perusahaan farmasi dan terpaksa meresepkan mahal meski tidak sesuai kemampuan pasien. “Dokter Muslim bisa dilihat dari cara dia memberi ,” katanya. “Kalau resepnya tidak sesuai kemampuan pasien, nilai umrahnya berkurang.”
Klinik ini juga memiliki jaringan relawan dari kalangan RT, RW, hingga kepala desa yang membantu menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Data pasien yang tidak mampu bahkan akan dikolaborasikan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar dapat didaftarkan sebagai peserta BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
Salah satu pasien yang hadir saat liputan adalah seorang ibu guru kepala sekolah MI swasta di Cilaku, Cianjur. Ia datang bukan karena penyakit fisik semata, melainkan karena tekanan pikiran akibat menurunnya jumlah murid di sekolahnya. Dokter pun memberikan “” yang tak biasa: meminta bantuan dari Bupati Cianjur dan program CSR Jabar untuk mendukung sekolah tersebut.
Kisah lain yang tak kalah menyentuh datang dari seorang ibu yang kelima anaknya berhasil menjadi sarjana, meskipun ia hanyalah seorang guru dengan gaji pas-pasan. Ia pernah menggadaikan sertifikat rumah demi biaya kuliah anaknya. Kini kelima anaknya telah sukses: ada yang bekerja di pemerintahan, menjadi direktur di perusahaan media nasional, hingga menjadi dokter yang bertugas di salah satu cabang klinik ini.
“Besar kecilnya penghasilan tidak menentukan masa depan anak,” kata sang dokter merangkum kisah itu. “Yang menentukan adalah tekad dan cara kita mengelola apa yang ada.”
Di akhir setiap transaksi, dokter ini selalu mengajukan tiga pertanyaan kepada pasiennya: “Sudah sepakat?”, “Ini mahal atau tidak?”, dan “Apakah Anda bahagia?”. Jika ketiga pertanyaan itu dijawab dengan puas, maka ijab kabul dianggap sah—bukan hanya sebagai transaksi medis, tetapi sebagai ikatan kepercayaan antara manusia.
Klinik ijab kabul di Cianjur ini membuktikan bahwa layanan kesehatan yang manusiawi bukan sekadar utopia. Dengan kreativitas, keikhlasan, dan sistem subsidi silang yang terkelola dengan baik, seorang dokter bisa melayani ratusan pasien setiap harinya—dari yang berduit hingga yang hanya punya doa.
FAQ
Apa itu sistem Ijab Kabul di klinik Cianjur ini?
Ijab Kabul adalah konsep kesepakatan biaya antara pasien dan dokter, di mana pasien menentukan sendiri besaran bayaran sesuai kemampuan, mulai dari nominal tertentu hingga nol rupiah, bahkan dalam bentuk barang seperti sayuran atau doa.
Apakah program RIDO dan Pepaya Merah terbuka untuk semua orang?
Ya, program RIDO (Rawat Inap Dibayar Doa) dan Pepaya Merah dirancang untuk masyarakat yang tidak mampu membayar secara finansial. Pasien cukup memanjatkan empat doa sebagai pengganti biaya perawatan.
Bagaimana klinik ini bisa bertahan secara finansial?
Klinik menerapkan sistem subsidi silang, di mana pasien yang mampu membayar lebih membantu menutup biaya pasien yang tidak mampu. Dokter juga memiliki sumber pendapatan lain dari pengelolaan rumah kos.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.