MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Bayangkan seorang anak yang tidak pernah bisa duduk tenang saat belajar matematika, namun tangannya bergerak lincah saat menyentuh kuas—menghasilkan lukisan yang membuat orang dewasa terdiam kagum. Apakah anak itu kurang pintar? Menurut seorang dokter spesialis anak, jawabannya tegas: tidak.

Definisi anak berprestasi selama ini terlalu sering disempitkan. Angka rapor dan kemampuan menguasai soal eksakta seolah menjadi satu-satunya tolok ukur yang dianggap sah oleh banyak orang tua dan lingkungan sekitar. Padahal, kenyataannya jauh lebih kaya dari itu.

dr. Shyrien Amalina, Sp.A, M.Sc, dokter spesialis anak dari RS Anugerah Pekalongan, secara terbuka menantang pandangan usang tersebut. Ia menegaskan bahwa kepintaran memiliki spektrum yang sangat luas dan tidak bisa dimasukkan ke dalam satu kotak pengukuran yang seragam.

“Tidak semua anak harus jadi dokter, tidak semua anak harus jago matematika atau fisika. Ada anak yang luar biasa dalam menggambar, ada yang bakatnya di musik. Anak-anak dengan disleksia, misalnya, rata-rata punya kemampuan seni dan musik yang menakjubkan. Masa kita bilang mereka tidak pintar? Mereka jenius di bidangnya,” ujar dr. Shyrien, dikutip dari siaran media pada Kamis, 8 Oktober.

Pernyataan itu bukan sekadar motivasi kosong. Ia merupakan penegasan ilmiah dari seorang profesional medis yang sehari-hari berhadapan dengan anak. Konsep kecerdasan majemuk—yang sudah lama diperkenalkan dalam dunia psikologi pendidikan—kini semakin mendapat pengakuan lebih luas di kalangan praktisi kesehatan anak.



Follow Widget