Di balik seragam Paskibraka yang berdiri tegap, ada seorang anak yang menanggung rindu. Jauh dari keluarga selama masa karantina, Ismi mengaku kerap kehilangan fokus saat teringat wajah orang-orang terkasih di rumah. Air mata pernah hadir di sudut kamar, diam-diam, tanpa diketahui siapa pun.

Namun Ismi tidak membiarkan rasa rindu itu meruntuhkan semangatnya. Ia memilih untuk menjadikan wajah orang tuanya sebagai sumber kekuatan—bukan sebagai beban yang menghambat, melainkan sebagai pengingat bahwa perjuangannya memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar dirinya sendiri.

Dukungan keluarga menjadi pilar penting dalam perjalanan Ismi. Doa orang tua yang tiada henti mengiringi setiap langkahnya, dari seleksi pertama di tingkat sekolah hingga hari-hari pelatihan yang melelahkan di Depok. Dalam kondisi terberat sekalipun, doa itu terasa nyata dan menopang.

Sekolah Rakyat Terpadu Polewali Mandar 22, tempat Ismi belajar, adalah bukti bahwa pendidikan berkualitas tidak harus lahir dari lembaga elite. Sekolah rakyat yang kerap dipandang sebelah mata ini justru melahirkan seorang calon pengibar bendera pusaka yang akan berdiri di hadapan seluruh bangsa Indonesia.

Keberhasilan Ismi juga menjadi kebanggaan Sulawesi Barat. Sebuah provinsi yang masih terus berkembang ini kini memiliki perwakilan di barisan Paskibraka nasional—seorang siswi SD yang mengharumkan nama daerah dengan cara yang paling membanggakan.



Follow Widget