Bagi Ratnawati, kolaborasi semacam ini bukan hal asing. Ia memahami bahwa program sebesar MBG tidak bisa dijalankan oleh pemerintah seorang diri. Dibutuhkan keterlibatan aktif pelaku usaha, UMKM lokal, dan tenaga ahli untuk membangun ekosistem pangan bergizi yang berkelanjutan di tingkat daerah.

Lebih jauh, Ratnawati berharap sinergi antara pemerintah dan Gapembi tidak hanya berdampak pada penerima manfaat langsung program—yakni anak-anak dan kelompok rentan—tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat Sinjai secara lebih luas. UMKM lokal, misalnya, berpeluang menjadi tulang punggung rantai pasok bahan baku pangan bergizi yang dibutuhkan program.

Ini adalah peluang nyata bagi para petani, pedagang bahan pangan, hingga pengolah makanan lokal di Sinjai untuk bersama program nasional. Jika dikelola dengan baik, MBG bisa menjadi mesin penggerak ekonomi daerah yang dampaknya jauh melampaui sekadar program sosial.

Kehadiran Gapembi di Sinjai menandai babak baru dalam tata kelola Program MBG di kabupaten ini. Dengan struktur organisasi yang mencakup berbagai elemen masyarakat dan dunia usaha, Gapembi berpotensi menjadi mitra pemerintah yang tidak hanya reaktif terhadap kebutuhan program, tetapi juga proaktif dalam menciptakan solusi jangka panjang.

Pelantikan pengurus pada 9 Agustus mendatang akan menjadi ujian pertama sekaligus momentum penting. Apakah sinergi yang terbangun hari ini akan bertahan dan menghasilkan dampak nyata bagi anak-anak Sinjai? Publik dan pemerintah daerah kini menantikan jawabannya.



Follow Widget