Pernyataan ini menjadi poin krusial yang membedakan Hantavirus dari COVID-19 yang sempat melumpuhkan dunia. Tidak adanya transmisi antarmanusia membuat potensi wabah skala besar relatif jauh lebih kecil, asalkan penanganan di lapangan dilakukan secara disiplin.
Lebih jauh, Budi menjelaskan bahwa varian Hantavirus yang beredar di kawasan Asia, termasuk yang terdeteksi di Indonesia, memiliki tingkat kematian antara 5 hingga 15 persen. Angka ini tergolong lebih rendah dibanding varian Andes yang ditemukan di Amerika Selatan, yang menyerang sistem pernapasan dengan tingkat kematian mencapai 50 hingga 60 persen.
Perbedaan varian ini penting dipahami publik agar tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak proporsional. Varian Asia umumnya menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau demam berdarah yang menyerang ginjal, bukan paru-paru seperti varian Amerika Selatan yang lebih agresif.
Di tengah situasi ini, pemerintah memilih pendekatan yang terukur: cepat merespons, ketat memantau, namun tidak memicu kepanikan publik. Imbauan yang disampaikan Budi pun bersifat praktis dan bisa langsung diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.