“Jumlah gempa susulan yang banyak itu karena bagian dari penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi, sehingga mendapatkan keseimbangan baru setelah ada gempa utama yang besar,” jelasnya. Proses itu, meski tidak menyenangkan bagi warga yang merasakannya, sesungguhnya merupakan cara alam melepaskan tekanan yang terakumulasi.

Sebaran gempa susulan tidak merata di seluruh NTT. BMKG mencatat konsentrasi aktivitas tektonik terpusat di wilayah Flores bagian tengah hingga barat. Ini erat kaitannya dengan karakteristik zona tektonik di kawasan tersebut yang memang dikenal aktif secara geologis.

Flores memang bukan wilayah asing dalam catatan kegempaan nasional. Pulau ini berada di jalur subduksi lempeng yang menjadikannya rawan gempa hampir sepanjang tahun. Gempa utama yang terjadi sebelumnya telah memicu rangkaian panjang aktivitas susulan yang kini terus dipantau secara ketat.

BMKG memproyeksikan intensitas gempa susulan akan menurun secara bertahap dalam beberapa pekan mendatang. Pada akhir September 2026, aktivitas seismik di wilayah itu diperkirakan sudah berada pada level yang relatif rendah. Namun hingga saat itu tiba, kewaspadaan tetap menjadi kunci.

Di lapangan, tim BMKG bersama instansi terkait terus melakukan evaluasi terhadap kondisi bangunan dan fasilitas publik yang terdampak. Sejumlah kerusakan telah ditemukan, mulai dari retakan dinding hingga kerusakan pada infrastruktur yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.



Follow Widget