Apalagi di era sekarang, ketika kehidupan orang lain bisa dilihat setiap saat melalui layar. Ada yang membeli rumah, mengganti kendaraan, membuka bisnis, atau pergi ke luar negeri. Kalau semuanya dijadikan ukuran untuk menilai kehidupan sendiri, rasa cukup akan semakin sulit ditemukan. Sebab setiap kali membuka layar, selalu ada seseorang yang terlihat memiliki lebih.

Hidup bukan perlombaan mengumpulkan sebanyak mungkin hal sebelum waktunya habis. Kita tetap boleh mengejar pencapaian, menikmati hasil kerja, membeli sesuatu yang disukai, dan meningkatkan taraf hidup. Namun semua itu akan jauh lebih bermakna ketika kita masih punya kemampuan menentukan batas — bukan terus mengikuti keinginan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Hidup secukupnya bukan ajakan untuk malas atau berhenti punya cita-cita. Justru sebaliknya — ia membutuhkan kemampuan mengendalikan diri yang tidak mudah. Tahu kapan harus mengejar dan kapan saatnya menikmati. Tahu kapan perlu menambah dan kapan sebaiknya berhenti. Kita tetap boleh bertumbuh tanpa menjadikan seluruh kehidupan sebagai perlombaan untuk memiliki lebih banyak.

Pada akhirnya, ada satu kemampuan yang tidak kalah penting dari kemampuan mendapatkan lebih banyak — yaitu mengetahui kapan sesuatu sudah cukup. Sebab mungkin itulah salah satu bentuk kebebasan yang paling sering diabaikan: kebebasan untuk merasa puas dengan apa yang ada, tanpa harus menunggu semua keinginan terpenuhi terlebih dahulu.



Follow Widget