Prinsip yang sama berlaku dalam urusan uang. Punya uang jelas penting karena kebutuhan hidup harus dipenuhi dan masa depan perlu dipersiapkan. Namun kemampuan menghasilkan uang seharusnya berjalan beriringan dengan kemampuan mengatur keinginan. Sebab kalau penghasilan naik dua kali lipat sementara keinginan naik tiga kali lipat, rasa kurang akan tetap mengikuti ke mana pun kita pergi.

Kadang masalahnya bukan karena yang kita miliki terlalu sedikit, tetapi karena ukuran “cukup” terus berubah. Sesuatu yang beberapa tahun lalu dianggap sebagai impian, setelah berhasil didapatkan bisa terasa biasa dalam hitungan bulan. Kita cepat terbiasa dengan keadaan yang lebih nyaman, dan tanpa sadar standar baru itu pun dianggap sebagai kebutuhan dasar, lalu kita kembali mengejar tingkat berikutnya.

Itulah mengapa sesekali melihat kembali apa yang sudah dimiliki menjadi penting. Bukan untuk berhenti berkembang, tetapi agar perjalanan tidak hanya berisi daftar tentang apa yang belum ada. Bisa tidur dengan tenang, tubuh masih bisa diajak beraktivitas, kebutuhan dasar terpenuhi, ada makanan di meja — hal-hal sederhana ini mudah dianggap biasa ketika semuanya tersedia.

Menariknya, banyak hal sederhana baru terasa mahal ketika kita kehilangannya. Tidur terasa sangat berharga ketika beberapa malam tidak bisa tidur nyenyak. Waktu luang terasa mahal ketika pekerjaan sedang menumpuk. Tubuh sehat terasa luar biasa ketika sedang sakit. Nilai sesuatu tidak selalu ditentukan oleh harganya, tetapi oleh kemampuan kita menyadari keberadaannya.

Menikmati hidup, pada kenyataannya, tidak selalu membutuhkan tambahan. Kadang yang paling dibutuhkan justru kemampuan berhenti sebentar dan benar-benar hadir dengan apa yang sudah ada. Makanan tidak harus mahal untuk terasa enak. Rumah tidak harus paling besar untuk terasa nyaman. Perjalanan tidak harus jauh untuk memberikan istirahat yang sesungguhnya.



Follow Widget