Pandemi 2020, yang bagi banyak orang identik dengan stagnasi dan keputusasaan, justru menjadi titik balik bagi Anggi. Di tengah keterbatasan gerak yang dialami semua orang, ia menemukan gunung. Bukan sekadar , bukan sekadar hobi, melainkan sebuah panggilan yang kemudian membentuk ulang hidupnya secara menyeluruh.
Dari satu pendakian ke pendakian berikutnya, Anggi mulai merangkai pencapaian yang tak terbayangkan sebelumnya. Dalam dua bulan, ia menaklukkan 15 gunung tertinggi di Indonesia. Ia kemudian menantang dirinya sendiri di jalur trekking terpanjang di Asia Tenggara yang melintas di Gunung Rinjani, sebuah persiapan mental dan fisik menuju ambisi yang jauh lebih besar: Himalaya.
Misi itu terwujud ketika Anggi berhasil mencapai Everest Base Camp di ketinggian 5.634 meter di atas permukaan laut. Hanya berbekal sebatang tongkat dan satu kaki, ia menempuh jalur yang menjadi impian ribuan pendaki dunia. Perjalanan menuju basecamp memakan waktu 11 hari, sementara keseluruhan ekspedisi berlangsung selama 17 hari penuh.
Di hadapan puluhan ribu peserta Jamnas, Anggi menegaskan bahwa semua itu bukan pamer kemampuan. Ada misi yang lebih besar yang ia emban, sebuah gerakan sosial bernama One More Step yang ia gagas untuk menyalakan harapan bagi para penyandang disabilitas dan siapa pun yang tengah berjuang menemukan alasan untuk terus melangkah.
Gerakan ini tidak lahir dari ruang hampa. Anggi menceritakan bagaimana kampanyenya menyentuh banyak orang yang mengaku menemukan kembali semangat hidup setelah menyaksikan perjalanannya. Kisahnya menyebar luas di berbagai platform digital, menjangkau mereka yang mungkin tidak pernah bermimpi bisa menginjakkan kaki di lereng gunung mana pun.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.