JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Dua puluh ribu peserta Jambore Nasional XII 2026 terdiam sejenak, lalu meledak dalam tepuk tangan panjang. Di hadapan mereka berdiri sosok yang datang bukan untuk dikasihani, melainkan untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik hanyalah soal sudut pandang.
Sabtu, 15 Agustus 2026, Buperta Cibubur menjadi panggung sesi Jumpa Tokoh yang paling dinanti dalam rangkaian Jamnas XII. Kak Anggi Wahyuda, pendaki penyandang disabilitas yang telah menginjakkan kakinya—satu kakinya—di Everest Base Camp, hadir langsung di tengah ribuan anggota Pramuka dari seluruh penjuru Indonesia.
Nama Anggi Wahyuda bukan nama asing di dunia pendakian Indonesia. Namun bagi banyak peserta Jamnas yang masih berusia belasan tahun, kisahnya adalah pengalaman pertama mendengar langsung bagaimana seseorang bisa bangkit dari titik kehancuran total dan mengubahnya menjadi perjalanan luar biasa.
Sebelum menjadi pendaki, Anggi adalah seorang balap sepeda. Ia telah menggenggam prestasi sejak usia sembilan tahun, membangun identitas dan mimpinya di atas dua roda. Semua itu berakhir pada 2015, ketika sebuah merenggut kaki kanannya dan memaksanya menghadapi realitas yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kehilangan kaki, ia akui, adalah ujian fisik yang berat. Namun kehilangan identitas diri jauh lebih menyakitkan. Anggi bercerita bagaimana ia sempat tenggelam dalam keterpurukan, mencari siapa dirinya kini setelah semua yang dulu membentuknya runtuh seketika. Proses menemukan jati diri baru itu, katanya, memakan waktu dan energi yang jauh lebih besar ketimbang proses pemulihan fisik itu sendiri.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.