MAGETAN, PUNGGAWANEWS – Di Magetan, Jawa Timur, sebuah kejadian tak lazim berlangsung pada Rabu, 6 Mei 2026. Puluhan peternak ayam petelur membagikan sekitar tiga ton telur secara gratis kepada pengendara yang melintas di kawasan Alun-Alun. Setiap orang mendapat enam butir. Bagi yang menerima, itu terasa seperti rezeki kecil di tengah siang hari. Bagi yang membagikan, itu adalah protes.

Bukan protes dengan spanduk atau orasi. Tapi dengan komoditas yang mereka hasilkan setiap hari, yang nilainya kini tak cukup menutup biaya produksi. Ketika peternak memilih membagikan tiga ton telur daripada menjualnya, sesuatu yang serius sedang terjadi di rantai pangan kita.

Harga telur di tingkat peternak Magetan saat itu berada di kisaran Rp 22.800 per kilogram. Angka ini jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) untuk produsen yang ditetapkan di Rp 26.500 per kilogram. Selisih hampir empat ribu rupiah per kilogram mungkin terdengar kecil. Tapi ketika kita bicara produksi dalam jumlah ton setiap hari, selisih itu menjadi kerugian nyata yang harus ditanggung peternak sendirian.

Secara nasional, tren yang sama sedang berlangsung. Per 3 Mei 2026, rata-rata harga telur di tingkat produsen tercatat Rp 24.890 per kilogram, turun dari Rp 25.642 per kilogram di awal April. Artinya, kasus Magetan bukan keluhan satu daerah yang kebetulan viral. Ini bagian dari tekanan sistemik yang sedang menekan peternak di seluruh negeri.