Turki menjadi salah satu mitra kunci dalam proses ini. Pemerintah Indonesia secara khusus menyampaikan penghargaan atas peran aktif Ankara dalam memfasilitasi pemulangan para relawan. “Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Turki atas peran aktif dan dukungan penuh dalam memfasilitasi proses pemulangan ini,” kata Sugiono.

Istanbul menjadi titik transit sebelum kesembilan WNI itu menginjakkan kaki kembali di Indonesia. Rute ini bukan hanya soal logistik perjalanan—ia mencerminkan bagaimana diplomasi diam-diam bekerja di balik layar, melibatkan lebih dari satu negara demi memastikan keselamatan warga sipil.

Sugiono menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melepas pengawalan hingga seluruh WNI benar-benar tiba di tanah air dalam kondisi aman dan sehat. “Pemerintah Indonesia akan terus mengawal proses pemulangan ini hingga seluruh WNI tiba kembali ke tanah air dengan selamat,” tegasnya.

Di balik nada syukur itu, Jakarta tidak menyembunyikan kecaman. Pemerintah Indonesia secara tegas mengutuk perlakuan yang diterima para relawan selama masa penahanan, yang dinilai tidak manusiawi. Tindakan menahan warga sipil yang sedang menjalankan misi kemanusiaan, menurut pemerintah, merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional—sebuah prinsip yang seharusnya dihormati oleh semua pihak, tanpa terkecuali.