MADINAH, PUNGGAWANEWS — Gelombang kedatangan jamaah haji Indonesia di Kota Nabi terus membesar. Hingga Sabtu, sebanyak 20.330 jemaah yang tergabung dalam 52 kelompok terbang telah menjejakkan kaki di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah. Dari total itu, hampir 4.000 orang merupakan jemaah lanjut usia yang membutuhkan perhatian ekstra dari petugas.

Di balik angka yang terus bertambah, ada kabar duka. Seorang jemaah asal Kloter 3 Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menghembuskan napas terakhir sesaat setelah tiba di Madinah pada Kamis, 23 April, akibat serangan jantung. Kementerian Haji membenarkan kabar tersebut dan menyampaikan duka cita mendalam.

Kondisi medis di bandara menjadi perhatian serius petugas kesehatan. Pada Jumat malam, seorang jemaah jatuh sakit begitu turun dari pesawat dan langsung mendapat penanganan darurat. Keesokan paginya, giliran seorang jemaah lain yang ditemukan tak sadarkan diri saat proses kedatangan. Tim medis gabungan Arab Saudi dan Indonesia bergerak cepat menangani keduanya secara kolaboratif.

Proses pendaratan secara umum berjalan lancar, meski sempat terjadi penumpukan pada Jumat sore menjelang Magrib. Ketika itu, empat kloter hadir dalam waktu yang hampir bersamaan di area kedatangan cepat, dua kloter besar tiba berbarengan sementara dua kloter lain belum menyelesaikan proses sebelumnya. Koordinasi intensif antara petugas dan pihak syarikah berhasil mengatasi kepadatan tersebut tanpa insiden berarti.

Di tengah arus ribuan jemaah yang berdatangan, ada satu kisah yang mencuri perhatian. Hamdi, seorang marbot masjid dari Banjarmasin, tampak berjalan tertatih-tatih menuju bus yang akan mengantarnya ke hotel kawasan Nabawi. Pria itu tak kuasa menyembunyikan haru yang membuncah.

Selama 15 tahun, dengan penghasilan sekitar satu juta rupiah per bulan dari tugasnya merawat masjid, ia menabung rupiah demi rupiah demi satu impian: menunaikan ibadah haji bersama sang istri. Tak ada sumber penghasilan lain yang berarti, hanya kedisiplinan dan keyakinan yang ia pegang teguh. Kini, setelah satu setengah dekade menunggu, pasangan suami istri itu akhirnya berdiri di tanah yang selama ini hanya mereka impikan.



Follow Widget