JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Sebuah masjid bukan sekadar tempat shalat. Di tangan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, Masjid Panggilan Sujud di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Lemdiklat Polri resmi berdiri dalam wajah baru—dengan misi yang jauh lebih besar dari sekadar ritual ibadah.

Peresmian revitalisasi masjid ini berlangsung pada Kamis, 2 Juli 2026. Bagi Wakapolri, momen ini bukan seremoni biasa. Ini adalah pernyataan sikap institusi kepolisian bahwa pembentukan pemimpin yang tangguh tidak bisa hanya mengandalkan ruang kelas dan buku teks.

Dedi Prasetyo menegaskan, masjid pendidikan harus bertransformasi menjadi ruang lahirnya pemimpin Polri yang melampaui sekadar kecakapan teknis. “Masjid pendidikan harus menjadi tempat lahirnya pemimpin Polri yang unggul secara akademik, kuat secara spiritual, berintegritas, dan mengabdi kepada masyarakat,” ujarnya dalam sambutan peresmian.

Pernyataan itu bukan retorika kosong. Revitalisasi Masjid Panggilan Sujud adalah bagian dari strategi Polri membangun sumber daya manusia yang utuh—tidak hanya cerdas di kepala, tetapi juga kuat di hati.

Lemdiklat Polri, sebagai lembaga pendidikan tertinggi kepolisian, menjadi lokasi yang tepat untuk mewujudkan gagasan ini. Sespim sendiri adalah kawah candradimuka para perwira menengah dan tinggi Polri yang disiapkan untuk mengemban jabatan strategis. Di sinilah karakter kepemimpinan digembleng.

Dedi menyoroti kelemahan mendasar dalam proses pembangunan sumber daya manusia yang sering diabaikan: kecepatan versus kualitas. Menurutnya, kualitas SDM tidak bisa dibangun secara instan, sebagaimana membalik telapak tangan.

“Proses dapat kita rancang, tetapi kualitas hasil tidak bisa direkayasa. Yang dapat kita kendalikan adalah kualitas hati, niat, dan ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah SWT,” kata Dedi dengan nada reflektif.

Kalimat itu mencerminkan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan institusi. Polri tidak hanya memandang pendidikan sebagai transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya—yang sadar akan keterbatasan dirinya di hadapan Yang Maha Kuasa.

Karena itu, Polri berkomitmen agar pendidikan kepolisian memadukan tiga kecerdasan sekaligus: intelektual, emosional, dan spiritual. Ketiganya dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam membentuk aparat penegak hukum yang sejati.

Masjid Panggilan Sujud dipilih bukan tanpa alasan filosofis. Nama itu sendiri mengandung pesan mendalam yang diungkap langsung oleh Wakapolri dalam sambutannya.

“Nama Panggilan Sujud mengingatkan kita untuk selalu sadar waktu, sadar umur, dan sadar amal,” terang Dedi. Tiga kesadaran inilah yang diharapkan menjadi fondasi bagi setiap peserta didik di Sespim: bahwa waktu terus berjalan, usia tidak bisa diputar kembali, dan setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.

Masjid ini dirancang tidak hanya sebagai tempat shalat berjamaah. Dedi menggambarkan fungsi yang jauh lebih luas: pusat silaturahmi antarperwira, majelis ilmu yang hidup, ruang diskusi ide-ide kepemimpinan, sekaligus tempat pembentukan pribadi-pribadi berkualitas.

Bayangkan sebuah masjid di mana setelah shalat Subuh berjamaah, para perwira duduk melingkar membahas etika kepemimpinan. Di mana kajian kitab berpadu dengan diskusi tentang tata kelola institusi. Di mana doa dan strategi lahir dari ruang yang sama. Itulah visi yang ingin diwujudkan Polri melalui revitalisasi ini.

Langkah ini juga mencerminkan kesadaran Polri bahwa krisis kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian—yang kerap muncul dalam pemberitaan nasional—berakar dari masalah karakter, bukan semata kompetensi teknis.

Banyak aparat yang terampil secara prosedural, tetapi goyah ketika menghadapi godaan korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau tekanan kasus besar. Di sinilah dimensi spiritual menjadi relevan: iman yang kuat diharapkan menjadi benteng terakhir ketika sistem pengawasan sekalipun tidak mampu menjangkau ruang batin seseorang.

Dedi Prasetyo mengapresiasi komitmen institusi dalam memperkuat dimensi spiritual melalui revitalisasi rumah ibadah ini. Ini adalah sinyal bahwa Polri tidak ingin sekadar mencetak polisi yang patuh pada aturan karena takut sanksi, melainkan polisi yang benar karena memang memilih kebenaran.

Revitalisasi Masjid Panggilan Sujud juga datang di momen yang tepat. Di tengah berbagai tuntutan reformasi Polri yang semakin keras dari masyarakat sipil, langkah ini menunjukkan bahwa perubahan sedang diupayakan dari dalam—bukan hanya melalui regulasi dan sanksi administratif, tetapi dari pembentukan karakter di akar pendidikan.

Jika masjid ini berhasil menjalankan fungsinya sebagaimana yang diidealkan Wakapolri, maka setiap perwira yang lulus dari Sespim Lemdiklat Polri diharapkan membawa lebih dari sekadar sertifikat pendidikan. Mereka membawa bekal spiritual yang diharapkan menopang integritas mereka di sepanjang karier.

Sebab pada akhirnya, institusi hanya sekuat orang-orang di dalamnya. Dan orang-orang yang kuat, kata Dedi, adalah mereka yang sadar waktu, sadar umur, dan sadar amal.

FAQ

Apa tujuan revitalisasi Masjid Panggilan Sujud di Sespim Lemdiklat Polri?
Revitalisasi ini bertujuan memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembentukan karakter dan spiritual bagi peserta didik Sespim, sehingga mampu melahirkan pemimpin Polri yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berintegritas dan kuat secara spiritual.

Mengapa dimensi spiritual dianggap penting dalam pendidikan kepolisian?
Menurut Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo, kualitas SDM Polri tidak bisa dibangun hanya melalui kecerdasan intelektual. Diperlukan kecerdasan emosional dan spiritual agar aparat memiliki fondasi moral yang kuat dalam menjalankan tugas dan menghadapi berbagai godaan penyalahgunaan wewenang.

Apa makna filosofis di balik nama Masjid Panggilan Sujud?
Nama tersebut mengandung tiga kesadaran penting: sadar waktu, sadar umur, dan sadar amal. Ketiganya diharapkan menjadi pengingat konstan bagi setiap perwira Polri bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, baik di dunia maupun di hadapan Tuhan.



Follow Widget