Kini sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi membawa gaya yang sama ke level lebih luas. Konten di YouTube dan TikTok-nya tak dibayar dari APBD—ia tegaskan itu dengan bangga. “Gubernur lain juga direkam, tapi tidak viral. Saya viral tanpa APBD. Artinya, dari sisi konten, negara justru efisien,” ujarnya disambut tawa mahasiswa.
Kritik soal gubernur konten dijawabnya dengan data. Berapa kilometer jalan yang sudah dibangun, berapa hutan yang sudah dihijaukan kembali, berapa ribu pasien yang ditangani setiap harinya—semua itu, kata Dedi, adalah ukuran kinerja yang sesungguhnya.
Ia juga bercerita soal keberanian mengambil keputusan di lapangan. Saat di Aceh, ia memerintahkan lapangan terbang Langsa yang tak beroperasi selama bertahun-tahun untuk dibersihkan dalam semalam—20 orang dibayar untuk menyapu landasan, menebang pohon yang menghalangi. Pagi harinya, pesawat sudah bisa mendarat. Bantuan pun mengalir.
Soal elektabilitas yang melonjak hingga kisaran 45 persen—bahkan melampaui ketua umum partainya sendiri—Dedi menjawab dengan tenang. “Saya harus tahu siapa saya, di mana saya, dan ke mana saya akan pergi.” Ia menyebut tingginya dukungan publik bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin yang harus dibaca dengan jernih.
Ketika ditanya apakah ia berambisi maju di Pilpres 2029, Dedi menjawab lugas: ada keinginan untuk maju sebagai gubernur lagi—dua periode. Sebuah jawaban yang disambut tepuk tangan riuh mahasiswa.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.