Di kursi menteri, ia dikenal dengan satu jargon yang langsung menancap di benak publik: tenggelamkan. Bukan sekadar gertakan, kebijakan itu menjadi tameng nyata bagi kedaulatan laut Indonesia dari ancaman pencurian ikan oleh kapal asing. “Ada kapal yang tertangkap tiga kali dalam setahun. Kami sudah lelah. Ditenggelamkan, selesai,” ujarnya tegas.
Susi juga menceritakan bagaimana bisnis penerbangannya lahir dari mimpi yang sangat sederhana—mengangkut hasil laut dari pesisir Jawa ke Jakarta dalam waktu kurang dari empat jam. Namun ketika bencana tsunami Aceh melanda, armada itu berubah fungsi menjadi kapal penyelamat kemanusiaan. Dua pesawat diberangkatkan ke Meulaboh tanpa izin lengkap, membawa relawan Palang Merah Jepang dalam 48 jam pertama bencana.
Filosofi itu yang kemudian terus ia pegang: ada kemampuan, ada kewajiban untuk membantu. Saat gempa NTT terjadi, Susi Air sudah bergerak dalam dua hingga tiga jam. Bukan karena perintah siapapun, melainkan karena memiliki basis di Kupang yang hanya satu jam terbang dari Maumere.
Dedi Mulyadi hadir dengan energi berbeda. Pria yang dikenal dengan udeng putih di kepala itu mengawali karier politiknya sebagai wakil bupati Purwakarta sejak 2003—dan sejak saat itu pula ia sudah terbiasa turun ke lapangan, jauh sebelum era media sosial menjadikannya viral.
“Kukurusukan sudah saya lakukan sejak jadi wakil bupati tahun 2003. Waktu itu tidak ada kamera besar, tidak ada media yang meliput,” kata Dedi. Ia bahkan menyinggung Joko Widodo yang lebih dulu viral dengan gaya blusukan serupa. “Saya di Purwakarta, beliau di Solo. Solo lebih dekat ke pusat kekuasaan, jadi lebih cepat terekspos.”


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.