Harga kebutuhan pokok yang masih tinggi dikeluhkan oleh 10,4 persen responden, dan 6,7 persen merasa pemerintah kurang memperhatikan nasib rakyat kecil. Rentetan keluhan ini menggambarkan bahwa isu kesejahteraan dan distribusi manfaat program masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Di luar soal kepuasan, survei juga merekam tingkat optimisme publik terhadap kemampuan pemerintah ke depan. Sebanyak 67 persen responden percaya pemerintah akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik, sedangkan 24,4 persen menyatakan sebaliknya, dan 8,6 persen tidak memberikan jawaban.

Ketika ditanya soal program kerja yang paling menonjol, bantuan sosial kembali memimpin dengan 15,9 persen responden menyebutnya sebagai program terbaik. Program Sekolah Rakyat berada di posisi kedua dengan 12,6 persen, diikuti MBG sebesar 11 persen, dan program pendidikan gratis dari sekolah hingga perguruan tinggi sebesar 8,1 persen.

Secara terpisah, survei memotret tingkat kepuasan publik terhadap masing-masing pemimpin. Prabowo Subianto meraih angka kepuasan 65,2 persen—hampir setara dengan kepuasan terhadap kinerja pemerintahan secara keseluruhan. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka mencatatkan angka yang lebih rendah, yakni 49 persen.

Kesenjangan antara kepuasan terhadap Prabowo dan Gibran ini menarik dicermati. Meski keduanya memimpin dalam satu paket, persepsi publik terhadap kontribusi masing-masing individu tampak berbeda. Adi menilai kondisi ini sebagai sinyal bahwa untuk mendorong kepuasan ke level di atas 70 persen, dibutuhkan peningkatan kinerja secara bersama-sama, bukan hanya bertumpu pada satu figur.



Follow Widget