MANGGARAI, PUNGGAWANEWS – Bukan keuntungan yang ia kejar di tengah kepanikan warga — melainkan ketenangan. Saat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur, seorang pemilik toko di Reo, Kabupaten Manggarai, justru memilih membuka pintunya lebar-lebar dan berkata kepada karyawannya: hari ini kita tidak berjualan, kita melayani.
Keputusan itu kini viral di media sosial dan menyentuh jutaan pengguna internet di seluruh Indonesia.
Gempa dahsyat yang mengguncang NTT menimbulkan kepanikan massal di kalangan warga. Akses terhadap kebutuhan pokok menjadi salah satu masalah paling mendesak pasca bencana. Toko-toko tutup, perbankan terbatas, dan warga kesulitan mendapatkan barang-barang esensial untuk keluarga mereka.
Di tengah situasi genting itulah, pemilik Macimart di Reo, Manggarai, NTT, mengambil langkah yang tak biasa. Alih-alih mengunci toko dan menyelamatkan stok barangnya, ia memerintahkan karyawannya untuk tetap buka dan melayani warga yang membutuhkan.
“Saya bilang, saya tidak mau jualan hari ini. Saya hanya mau menyiapkan orang-orang yang butuh,” ujarnya dalam video yang kini beredar luas. Ia menyebut tokonya dengan bangga: Macimart Reo.
Ucapan itu bukan sekadar basa-basi. Ia langsung mengarahkan stafnya untuk memprioritaskan kebutuhan bayi seperti susu formula dan popok. Warga yang benar-benar membutuhkan bahkan diperbolehkan mengambil sejumlah barang secara cuma-cuma, tanpa syarat, tanpa pertanyaan.
Keputusannya bukan tanpa pertimbangan. Sang pemilik toko mengaku bersyukur bahwa tokonya masih terlindungi dari kerusakan akibat gempa. Rasa syukur itulah yang ia wujudkan dalam bentuk nyata: membuka toko di saat orang lain memilih menutupnya.
Ia juga tak lupa mengingatkan para karyawannya yang masing-masing tengah sibuk mengurus keluarga mereka sendiri yang terdampak bencana. Namun ia meminta mereka untuk sejenak menangguhkan kepentingan pribadi demi melayani sesama yang lebih membutuhkan.
Salah satu kebijakan yang paling mencuri perhatian adalah larangan penjualan rokok. Di tengah situasi darurat, pemilik toko dengan tegas memutuskan: tidak ada rokok yang boleh dijual hari itu. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan uang tunai yang dimiliki warga digunakan untuk keperluan yang jauh lebih mendesak — bahan makanan, kebutuhan bayi, dan keperluan dasar lainnya.
Kebijakan ini sederhana namun berdampak besar. Dalam situasi bencana, keputusan kecil seperti ini bisa menjadi perbedaan antara keluarga yang terpenuhi kebutuhannya dan yang tidak.
Tidak hanya soal barang, toko itu juga membuka fasilitas transaksi dan penarikan tunai bagi warga yang membutuhkan dana darurat. Ini menjadi angin segar di tengah keterbatasan akses perbankan pasca gempa, di mana mesin ATM bisa saja rusak atau antrean mengular panjang tanpa kepastian.
Warga yang datang tidak hanya disambut dengan rak-rak barang yang masih tersusun rapi, tetapi juga dengan sikap tenang dan penuh empati dari sang pemilik dan karyawannya. Dalam kondisi di mana kepanikan mudah menyebar, kehadiran toko yang buka dengan niat tulus menjadi semacam jangkar psikologis bagi komunitas sekitar.
Video yang beredar di media sosial merekam momen-momen ketika pemilik toko menyampaikan niatnya secara langsung kepada kamera. Tutur katanya tidak dibuat-buat. Tidak ada dramatisasi. Hanya kejujuran seorang pengusaha lokal yang memilih menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari kepanikan.
Respons publik pun membludak. Kolom komentar dipenuhi ungkapan kekaguman dan terima kasih. Banyak warganet yang menyebut tindakan pemilik Macimart sebagai contoh nyata solidaritas kemanusiaan yang seharusnya menjadi teladan — bukan hanya di NTT, tetapi di seluruh Indonesia.
Tidak sedikit yang membandingkan sikapnya dengan kisah-kisah sebaliknya: para spekulan yang menaikkan harga sembako saat bencana, atau pedagang yang memilih menutup toko demi menghindari risiko. Pemilik Macimart Reo memilih jalan yang berbeda — dan itulah yang membuatnya istimewa.
Gempa 7,7 SR yang mengguncang NTT memang menyisakan luka dan kerusakan yang tidak sedikit. Namun di antara reruntuhan dan kepanikan, ada kisah yang layak diingat: kisah seorang pemilik toko kecil di Reo yang membuktikan bahwa kepedulian bisa menjadi kekuatan terbesar dalam menghadapi bencana.
Ia tidak memiliki armada relawan, tidak punya dana bantuan miliaran rupiah, tidak pula dibekali dengan pelatihan manajemen bencana. Yang ia miliki hanya toko, stok barang, dan hati yang lurus.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Kisah Macimart Reo mengingatkan kita bahwa dalam setiap bencana, selalu ada manusia-manusia yang memilih untuk bangkit dan memberi. Mereka mungkin bukan pejabat, bukan tokoh nasional, bukan influencer dengan jutaan pengikut. Mereka adalah orang biasa yang melakukan hal luar biasa di saat yang paling dibutuhkan.
Dan itulah yang selalu membuat Indonesia mampu berdiri kembali — bukan hanya karena bantuan dari atas, tetapi karena kebaikan yang dari bawah.
FAQ
Apa yang dilakukan pemilik Macimart Reo saat gempa NTT terjadi?
Pemilik Macimart di Reo, Manggarai, NTT, membuka tokonya secara gratis usai gempa 7,7 SR, memperbolehkan warga mengambil kebutuhan dasar seperti susu bayi dan popok tanpa biaya, serta melarang penjualan rokok agar warga fokus pada kebutuhan pokok.
Mengapa pemilik toko melarang penjualan rokok setelah gempa?
Kebijakan larangan jual rokok diterapkan agar uang tunai yang dimiliki warga terdampak gempa bisa dialokasikan sepenuhnya untuk membeli kebutuhan pokok yang lebih mendesak bagi keluarga mereka.
Bagaimana reaksi publik terhadap tindakan pemilik Macimart Reo?
Video aksi pemilik toko tersebut viral di media sosial dan mendapat banjir pujian dari warganet di seluruh Indonesia, yang menilai sikapnya sebagai teladan nyata solidaritas kemanusiaan di tengah situasi bencana.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.