Generasi berikutnya membawa bisnis ini ke level yang berbeda. John Chuang, putra Ming, besar di lingkungan pabrik keluarga. Tapi ia tidak hanya mengandalkan pengalaman masa kecil. Ia kuliah teknik mesin dan bisnis di Universitas Liverpool, Inggris, lulus pada 1973, lalu sempat tinggal di Amerika sebelum kembali ke Indonesia.
Saat John kembali, ia membawa perspektif baru. Produk sudah kuat. Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh bisnis ini bisa dibawa? Jawabannya mulai terbentuk pada 1984, ketika John bersama saudara-saudaranya mendirikan Petra Foods di Singapura. Ini bukan soal meninggalkan Indonesia — melainkan membangun sistem yang lebih besar untuk membawa produk Indonesia lebih jauh.
Petra Foods tidak berhenti di distribusi cokelat. Mereka masuk ke bisnis bahan baku kakao, mulai dari Filipina, Thailand, lalu merambah ke dan Brasil. Dari sebuah gudang kecil di Garut, jaringan bisnis keluarga Chuang telah melintasi batas negara dan benua. Pada 2004, Petra Foods resmi tercatat di bursa saham Singapura.
Tapi skala besar tidak selalu berarti fokus yang lebih tajam. Pada 2013, bisnis bahan kakao dijual kepada Barry Callebaut — perusahaan cokelat asal Swiss. Keputusan itu mengejutkan banyak pihak. Tapi logikanya jelas: keluarga Chuang memilih untuk kembali ke sesuatu yang lebih dekat dengan akar mereka — brand konsumen yang langsung dikenal masyarakat.
Dengan fokus yang lebih sempit, strategi pemasaran SilverQueen juga semakin tajam. Produk ini tidak mencoba tampil formal atau mewah. Ia sengaja diposisikan untuk momen santai — nongkrong, ngobrol, istirahat sejenak. Iklan-iklannya berulang kali menyematkan SilverQueen dalam situasi sehari-hari yang ringan dan relatable, terutama bagi remaja dan dewasa muda.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.