Ketegasan sikap Kemenag ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan penetapan hari raya antarorganisasi Islam kerap memantik perdebatan di masyarakat. Melalui sidang isbat, pemerintah berupaya menghadirkan satu titik temu yang sah dan mengikat secara negara — meski masing-masing ormas tetap memiliki kewenangan dalam penentuannya sendiri.
Muhammadiyah, misalnya, lazimnya telah mengumumkan tanggal Iduladha lebih awal berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang mereka gunakan. Keputusan itu tidak selalu selaras dengan hasil sidang isbat pemerintah. Perbedaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan umumnya diterima masyarakat sebagai bagian dari keberagaman cara beribadah.
Usai sidang, Kemenag akan menggelar konferensi pers pada hari yang sama, 17 Mei 2026, untuk mengumumkan hasil resmi penetapan awal Zulhijah. Dari sanalah tanggal pasti Hari Raya Iduladha akan diketahui publik.
Bagi umat Islam yang tengah mempersiapkan ibadah kurban — mulai dari pemilihan hewan, koordinasi dengan panitia masjid, hingga pengiriman dana kurban ke lembaga amanah — kepastian tanggal ini menjadi informasi yang sangat krusial. Waktu persiapan yang tersisa menjadi pertimbangan penting, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil dengan akses distribusi hewan kurban yang terbatas.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.