Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, JAKARTA — Di hadapan para tokoh dan pengurus organisasi pencak silat nasional, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik yang tajam namun mengandung keprihatinan mendalam: sebagian anak bangsa yang terdidik justru terjebak dalam rasa rendah diri terhadap budaya sendiri.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu, 11 April 2026. Di hadapan forum bergengsi tersebut, Presiden secara terang-terangan menyebut fenomena yang ia namakan inferiority complex, yakni kecenderungan sebagian kalangan elite yang lebih mengagumi dan membanggakan segala sesuatu yang datang dari luar negeri ketimbang warisan dan kekayaan budaya bangsa sendiri.

Bagi Prabowo, sikap semacam itu bukan sekadar persoalan selera atau gaya hidup. Ia menilainya sebagai ancaman yang jauh lebih berbahaya dari yang tampak di permukaan. Mentalitas rendah diri yang dibiarkan tumbuh subur, menurutnya, berpotensi menggerus semangat kebangsaan secara perlahan dan mengikis kepercayaan diri kolektif suatu bangsa dalam jangka panjang.

Presiden kemudian menelusuri akar persoalan ini dari sudut pandang sejarah. Ia mengingatkan bahwa Indonesia sejatinya adalah bangsa yang sejak lama terbiasa terbuka terhadap pengaruh luar. Keterbukaan itu, kata Prabowo, pada dasarnya adalah kekuatan. Namun ia menjadi masalah ketika tidak lagi dipahami sebagai dialog antarbudaya, melainkan bergeser menjadi ketergantungan dan pengagungan buta terhadap hal-hal asing.

“Kita hormat semua bangsa, tapi jangan lupa bangsa sendiri,” tegas Prabowo, dalam pernyataan yang langsung disambut antusias oleh para hadirin.

Dalam konteks itulah Prabowo mengaitkan pidatonya dengan keberadaan IPSI dan pencak silat sebagai simbol konkret identitas nasional yang harus terus dijaga. Baginya, organisasi seperti IPSI bukan sekadar lembaga olahraga, melainkan benteng kebudayaan yang bertugas memelihara kebanggaan dan jati diri Indonesia di tengah gempuran pengaruh global yang kian deras.

Prabowo menutup pesannya dengan sebuah prinsip yang ia yakini sebagai fondasi dari setiap bangsa yang benar-benar besar, yaitu bahwa kebesaran sebuah bangsa diukur bukan dari seberapa jauh ia meniru bangsa lain, melainkan dari seberapa dalam ia menghormati leluhur dan merawat warisan budayanya sendiri.



Follow Widget