Di sinilah konteks kunjungan tim Pertamina ke AS menjadi semakin jelas. Ini bukan sekadar kunjungan bisnis biasa atau penjajakan pasar semata. Ada kewajiban negara yang harus dipenuhi, ada komitmen diplomatik yang perlu diwujudkan dalam kontrak nyata, dan ada kebutuhan energi nasional yang tak bisa ditunda.
Bahlil tampaknya ingin memastikan bahwa meski ada tekanan untuk memenuhi kuota impor dari AS, Indonesia tetap bernegosiasi dari posisi yang kuat. Prinsip efisiensi harga yang ia tegaskan berulang kali adalah pesan bahwa Jakarta tidak akan begitu saja menerima harga yang ditawarkan Washington—Indonesia akan tetap memilih berdasarkan kalkulasi ekonomi.
Pertanyaannya kini, seberapa cepat kontrak-kontrak itu bisa ditandatangani, dan apakah harga yang disepakati benar-benar akan menguntungkan konsumen energi di dalam negeri? Jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan besar akan muncul dalam waktu tidak terlalu lama, seiring laporan tim Pertamina yang sudah ada di meja Bahlil.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.