Kunjungan tim Pertamina ke AS bukan tanpa latar belakang. Ini bermula dari Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung yang pada akhir April lalu mengungkapkan bahwa delegasi Pertamina sedang aktif menjalin penjajakan dengan sejumlah perusahaan energi Amerika. Tujuannya jelas: mencari sumber pasokan minyak mentah yang bisa dikirim cepat dan memenuhi kebutuhan LPG nasional.
Yuliot kala itu juga sempat menggelar rapat bersama Kementerian Luar Negeri dan sejumlah duta besar. Agenda pembahasannya mencakup koordinasi diplomatik untuk mendukung rencana impor energi dari AS dalam jumlah besar. “Perusahaan-perusahaan mana yang bisa menyuplai kita dalam waktu cepat—itu yang sedang didetailkan oleh teman-teman Pertamina,” katanya, Jumat, 24 April 2026.
Salah satu fakta yang menarik: impor LPG Indonesia dari AS ternyata sudah sangat dominan. Yuliot menyebutkan bahwa saat ini 60 hingga 70 persen kebutuhan LPG nasional sudah dipasok dari Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan betapa ketergantungan Indonesia pada energi asal AS sesungguhnya bukan hal baru—melainkan sudah berlangsung dalam skala besar.
Namun ke depan, angka itu berpotensi terdongkrak lebih tinggi lagi. Dorongan untuk meningkatkan impor energi dari AS bukan hanya datang dari kebutuhan dalam negeri, melainkan juga dari kewajiban yang telah ditandatangani di atas meja perundingan internasional.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.