Ia menggambarkan situasi disrupsi informasi saat ini dengan analogi yang cukup menggugah: seperti mengarungi sungai berbatu dengan ombak yang tak terduga. Derasnya arus bukan alasan untuk berhenti, justru menjadi ujian ketangkasan.
“Kalau kita main tenis, musuhnya tidak seimbang, enggak mengasyikkan mainnya. Tetapi kalau ada tantangan, itu adrenalin terpacu,” tuturnya, menyamakan geliat media baru yang kerap membuat gaduh sebagai interval—jeda yang justru memacu semangat.
Di sinilah inti pandangan Komaruddin: disrupsi bukan ancaman yang harus ditakuti, melainkan tantangan yang harus direspons dengan konsistensi dan profesionalisme. Pers yang kuat adalah pers yang tidak goyah ketika gelombang informasi palsu datang bertubi-tubi.
Era digital memang telah mengubah lanskap komunikasi secara fundamental. Siapa pun kini bisa berbicara, menulis, bahkan menyiarkan “berita” tanpa perlu melalui proses verifikasi yang ketat. Akses informasi tidak lagi berbatas, dan itu membawa berkah sekaligus risiko.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.