Summarize the post with AI

JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Agus Subiyanto memastikan seluruh prajurit TNI yang tengah bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, atau dikenal sebagai United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), akan ditarik pulang ke tanah air paling lambat bulan depan. Kepastian itu disampaikan Agus kepada wartawan usai menghadiri sebuah acara di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

“Mei, Mei memang sudah habis,” kata Agus, merujuk pada batas akhir masa penugasan kontingen TNI di wilayah yang masih dilanda konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah tersebut.

Meski demikian, Panglima belum memberikan keterangan resmi mengenai kemungkinan pengiriman rotasi pasukan perdamaian berikutnya. Pemerintah Indonesia sendiri sejauh ini tetap menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam misi-misi perdamaian PBB, termasuk di kawasan Lebanon.

Agus mengungkapkan bahwa sebagian anggota TNI sudah lebih dahulu kembali ke Indonesia, terutama mereka yang menjadi korban atau mengalami luka-luka akibat eskalasi konflik di Lebanon Selatan. Ia tidak merinci jumlah pasti prajurit yang akan dipulangkan, namun memastikan bahwa mereka yang kondisinya mulai membaik akan segera diterbangkan ke Jakarta guna menjalani perawatan medis lanjutan. Sejumlah prajurit lainnya hingga kini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Saint George, Beirut.

“Ada yang sudah membaik, alhamdulillah. Segera dikembalikan ke Jakarta untuk perawatan. Yang satu orang itu sedang dicari tiketnya untuk kembali,” ujar Agus.

Gugurnya tiga prajurit TNI dalam dua insiden terpisah di Lebanon Selatan sebelumnya telah memantik reaksi keras dari komunitas internasional. Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.

“Semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka untuk menjamin keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian setiap saat. Kekebalan fasilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa harus dihormati,” tegas Dujarric dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

Investigasi awal UNIFIL mengungkap kronologi dua insiden mematikan tersebut secara lebih rinci. Pada 29 Maret 2026, Kopral Dua Anumerta Farizal Rhomadhon gugur setelah proyektil dari meriam tank berkaliber 120 milimeter yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur menghantam posisi PBB bernomor 7-1 di kawasan Ett Taibe. Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan analisis lokasi dampak serta fragmen proyektil yang ditemukan di lokasi kejadian.

Insiden berbeda terjadi sehari berselang. Pada 30 Maret 2026, dua prajurit TNI lainnya, Mayor Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, gugur akibat ledakan perangkat peledak rakitan atau improvised explosive device yang terpicu saat korban melintasi area tersebut. Berdasarkan lokasi kejadian dan karakteristik ledakan yang teridentifikasi, investigasi UNIFIL menyimpulkan bahwa peledak itu kemungkinan besar dipasang oleh kelompok Hizbullah.

PBB menyatakan telah meminta seluruh pihak yang terlibat untuk menindaklanjuti kedua kasus ini melalui penyelidikan di tingkat nasional, dengan tujuan membawa para pelaku ke hadapan pengadilan dan memastikan adanya pertanggungjawaban pidana atas tindakan yang merenggut nyawa penjaga perdamaian internasional tersebut.



Follow Widget