Tulang punggung integrasi ini adalah aplikasi bernama SIPAKALEBBI — singkatan dari Sistem Integrasi Pelayanan Kolaboratif, Akuntabel, Efisien, Bersih, dan Bebas Korupsi. Aplikasi berbasis Android ini tengah dalam tahap pengembangan dan dirancang agar alur pengajuan layanan bisa berjalan tanpa tatap muka langsung dengan petugas MPP.
Skemanya cukup sederhana. Warga cukup mengajukan permohonan di Gerai Panrita terdekat. Sistem kemudian meneruskan data itu langsung ke MPP, dan dokumen diproses dari kota — tanpa si pemohon harus hadir di sana. Bagi warga di wilayah terpencil, ini bisa menjadi perubahan yang sangat berarti.
“Ke depan kami berharap 118 jenis layanan yang saat ini tersedia di Mall Pelayanan Publik juga dapat dinikmati masyarakat melalui seluruh Gerai Panrita di Kabupaten Sinjai,” ujar Lukman.
Meski demikian, Lukman menegaskan bahwa MPP tetap akan menjadi pusat pelayanan utama. Ada sejumlah layanan yang secara regulasi mengharuskan kehadiran fisik pemohon — perekaman KTP elektronik, layanan keimigrasian, dan konsultasi perpajakan adalah beberapa di antaranya. Untuk jenis layanan ini, warga masih perlu datang langsung ke MPP.
Proses integrasi antara MPP dan Gerai Panrita diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun. Ini bukan pekerjaan semalam — ada infrastruktur digital yang harus dibangun, SDM yang perlu dilatih, dan sistem yang harus diuji sebelum benar-benar bisa diandalkan oleh publik.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.