Sebagai penghormatan tertinggi, Presiden Prabowo menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Adipurna kepada Perdana Menteri Modi. Ini adalah tanda kehormatan sipil tertinggi yang dimiliki Republik Indonesia—sebuah gestur yang bukan sekadar protokoler, melainkan pernyataan politik tentang seberapa dalam Indonesia memandang posisi Modi dan India dalam konstelasi hubungan luar negerinya.
Ada dimensi historis yang mengiringi penganugerahan ini. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri pertama India—tokoh yang bersama Soekarno menjadi arsitek Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Dengan memberikan penghargaan yang sama kepada Modi, Prabowo seolah menarik benang merah antara persahabatan bersejarah dua bangsa itu dengan visi kerja sama yang ingin dibangun hari ini.
Hubungan Indonesia dan India memang punya akar yang dalam. Jauh sebelum kedua negara merdeka, peradaban Nusantara dan anak benua India telah saling mempengaruhi lewat jalur perdagangan, agama, dan seni. Prambanan sendiri adalah bukti nyata dari persilangan budaya itu—dan kini, menjaga warisan tersebut pun dilakukan bersama.
Bagi Indonesia, rangkaian kunjungan pemimpin dunia ini membawa pesan yang lebih besar dari sekadar agenda diplomatik. Ini adalah cermin dari repositioning Indonesia di panggung global—bukan lagi hanya sebagai pasar atau penerima investasi, melainkan sebagai mitra strategis yang dianggap setara oleh kekuatan-kekuatan besar dunia.
Dengan 16 dokumen yang telah ditandatangani dan banyak agenda implementasi yang menanti, kini pekerjaan sesungguhnya dimulai: mengubah kertas perjanjian menjadi hasil nyata yang dirasakan oleh rakyat Indonesia dan India.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.