Nasaruddin mengakui kondisi ini harus dipandang secara utuh dan jujur. Banyak madrasah dan pesantren dibangun dari nol oleh komunitas lokal, dengan segala keterbatasan sumber daya. Para kiai dan pengelola berjuang keras agar anak-anak tetap bisa mengakses pendidikan, meski tanpa dukungan penuh dari negara.
Namun keterbatasan itu, tegas Nasaruddin, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan perlindungan anak. Pemerintah, katanya, akan terus berupaya melakukan perbaikan di bidang fasilitas, pencegahan perundungan, dan bantuan pendidikan sesuai kemampuan dan anggaran yang tersedia. Kolaborasi lintas sektor juga akan diperkuat agar layanan pendidikan keagamaan semakin berkualitas.
“Madrasah dan pesantren harus jadi ruang aman bagi anak,” tegasnya — kalimat singkat yang menjadi inti dari seluruh pesan yang ia sampaikan hari itu.
Isu perlindungan anak di lingkungan pesantren memang bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan oknum di lembaga pendidikan Islam sempat menjadi sorotan publik dan mengguncang kepercayaan masyarakat. Nasaruddin pun merespons hal ini secara langsung.
Ia meminta masyarakat untuk tidak melakukan generalisasi. Kasus yang dilakukan oknum tidak seharusnya menutup mata terhadap kerja keras ribuan kiai dan pengajar yang selama bertahun-tahun mendidik anak-anak dengan keikhlasan. Mayoritas pesantren, tegasnya, justru menjadi tempat lahirnya generasi yang berakhlak, berkarakter, dan berprestasi.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.