Yang menarik dari peluncuran ini adalah kecepatannya. Dari tahap perencanaan hingga ribuan koperasi berdiri dan siap beroperasi, pemerintah hanya membutuhkan waktu kurang dari dua belas bulan — sebuah rekor yang jarang terlihat dalam tata kelola program nasional di Indonesia. Ini menjadi sinyal bahwa ada keseriusan politik di balik program ini, bukan sekadar proyek yang terjebak dalam labirin birokrasi.
Bagi masyarakat Desa Lappa Cinrana dan sekitarnya di Bulupoddo, kehadiran KDMP membuka babak baru. Selama ini, akses terhadap modal usaha dan jaringan distribusi menjadi hambatan klasik bagi pelaku ekonomi kecil di pedesaan. Dengan koperasi yang kini berdiri resmi dan memiliki dukungan pemerintah daerah, hambatan itu diharapkan perlahan terkikis.
Pemerintah Kabupaten Sinjai pun menyatakan komitmennya untuk mendorong replikasi program ini ke seluruh desa dan kelurahan yang belum terjangkau. Dalam pandangan Bupati Ratnawati Arif, keberhasilan satu koperasi bisa menjadi contoh hidup bagi desa-desa lain yang sedang menunggu giliran.
Peresmian KDMP pada 16 Mei 2026 bukan akhir dari sebuah program — ia adalah garis start dari perlombaan panjang membangun ekonomi desa yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan. Dan Sinjai, lewat Lappa Cinrana, telah mengambil langkah pertamanya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.