Koperasi dalam sejarah Indonesia memang pernah menjadi simbol perlawanan ekonomi terhadap dominasi modal asing dan korporasi besar. Bung Hatta, yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, membangun fondasi ideologis koperasi sebagai perwujudan sila keempat dan kelima Pancasila. Semangat itu kini kembali digaungkan, disesuaikan dengan tantangan zaman yang jauh berbeda.
Dalam konteks ekonomi global yang penuh ketidakpastian, model ekonomi berbasis komunitas dan solidaritas seperti koperasi justru mendapat relevansi baru. Di berbagai negara, koperasi terbukti mampu bertahan bahkan saat krisis melanda, karena orientasinya bukan pada keuntungan semata, melainkan pada kesejahteraan bersama anggotanya.
Presiden Prabowo menyebut koperasi akan bangkit sebagai kekuatan ekonomi nasional. Kalimat itu mengandung pengakuan implisit bahwa koperasi selama ini belum berada di puncak potensinya. Ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan — dari pembenahan regulasi, penguatan modal, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga digitalisasi layanan koperasi agar relevan di era modern.
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang sedang dipercepat pembangunnya menjadi ujian nyata dari komitmen itu. Jika berhasil, program ini bisa menjadi model baru pemberdayaan ekonomi desa yang tidak bergantung pada bantuan tunai semata, tetapi membangun kapasitas produksi dan distribusi secara mandiri.
Hari Koperasi ke-79 ini menutup satu babak dan membuka babak baru. Di bawah kepemimpinan Prabowo, sinyal sudah dikirimkan dengan jelas. Kini, pertanyaannya bukan lagi soal komitmen, melainkan soal eksekusi — seberapa cepat, seberapa merata, dan seberapa berdampak nyata program-program itu bagi jutaan anggota koperasi di seluruh Indonesia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.