LAMONGAN, PUNGGAWANEWS – Bukan sekadar warung atau gerai belanja kecil-kecilan. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dirancang jauh lebih ambisius dari itu — sebagai mesin penggerak ekonomi di tingkat desa yang kepemilikannya sepenuhnya ada di tangan masyarakat.
Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah menegaskan hal tersebut di hadapan pengurus baru DPD KNPI Kabupaten Lamongan, Rabu, 7 Oktober 2026. Ia ingin memastikan tidak ada lagi salah tafsir soal fungsi dan visi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, atau yang dikenal dengan singkatan KDKMP.
“KDKMP adalah lokomotif ekonomi berbadan usaha koperasi yang kepemilikannya milik desa,” ujar Farida. Pernyataan itu terdengar lugas, tapi menyimpan ambisi besar: mengubah cara desa mengelola sumber dayanya sendiri.
Selama ini, potensi ekonomi desa kerap “bocor” ke luar — dikuasai pemodal dari kota atau bahkan investor asing. Pertambangan, pertanian, perikanan, hingga sumber daya air yang melimpah di desa-desa Indonesia sering kali tidak memberikan manfaat langsung bagi warganya. KDKMP hadir untuk membalik logika itu.
Melalui kerangka koperasi desa, pengelolaan sumber daya tersebut dikembalikan ke tangan desa itu sendiri. Bukan sekadar jargon pemberdayaan, melainkan mekanisme kelembagaan yang memberi desa kendali nyata atas aset dan potensi ekonomi di wilayahnya.
Farida tidak berhenti di situ. Ia secara khusus menyebut pemuda sebagai ujung tombak gerakan ini. KNPI, sebagai organisasi kepemudaan nasional yang baru saja melantik pengurus barunya di Lamongan, ia harapkan menjadi motor penggerak KDKMP di lapangan.
Indonesia sedang berada di titik krusial demografis. Penduduk usia produktif kini mencapai 60 hingga 70 persen dari total populasi — sebuah jendela kesempatan yang tidak akan terbuka selamanya. Farida melihat bonus demografi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan energi nyata yang harus disalurkan ke arah yang produktif.
“Saya sangat berharap KDKMP ini menjadi ruang lokomotif ekonomi di desa dan penggeraknya adalah anak-anak muda,” katanya. Kalimat itu bukan sekadar harapan seremonial. Ia sekaligus menjadi tantangan langsung kepada para pemuda yang hadir di pelantikan tersebut.
Pemerintah pusat pun tidak ingin lepas tangan. Farida menyatakan kesiapan negara untuk hadir dari sisi permodalan dan kemudahan akses usaha. Namun ada syaratnya: KNPI dan pemuda desa harus terlebih dahulu memetakan potensi rantai pasok lokal dan peluang bisnis konkret di wilayah masing-masing.
Ini bukan program yang tinggal menerima jadi. Pemuda diminta aktif mengidentifikasi apa yang tersedia di desanya — komoditas apa yang bisa diolah, jalur distribusi mana yang bisa dibangun, dan ekosistem usaha seperti apa yang realistis untuk ditumbuhkan.
Target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pun tersebut dalam pembicaraan ini. Bukan kebetulan. KDKMP diposisikan sebagai salah satu instrumen untuk mencapainya, dengan asumsi bahwa pertumbuhan nasional hanya bisa solid jika akarnya kuat sampai di tingkat desa.
“Kita berharap pertumbuhan 8 persen ini bisa diwujudkan di setiap desa dan perannya diambil oleh para pemuda, termasuk yang ada di Lamongan,” kata Farida. Pernyataan ini menarik karena bukan bicara pertumbuhan nasional secara abstrak, melainkan memecahnya menjadi target yang harus diwujudkan di setiap titik terkecil.
Dari kursi DPR RI, Anggota Komisi VI Ahmad Labib menyuarakan nada senada, namun dari sudut pandang berbeda. Ia menyoroti satu hal yang kerap luput dari perhatian: kualitas sumber daya manusia.
Lamongan, seperti banyak daerah lain di Indonesia, memiliki komoditas unggulan. Tapi memiliki bahan baku saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan global. “Meskipun kita memiliki keunggulan komoditas strategis, kita tidak akan menang di pasar global tanpa kreativitas,” tegasnya.
Labib mendorong pemuda di bawah bendera KNPI untuk tidak berpuas diri dengan keunggulan alamiah daerahnya. Kreativitas, inovasi, dan kemampuan membaca peluang pasar adalah modal tambahan yang wajib diasah.
Ia juga melihat KDKMP sebagai fondasi bagi penguatan UMKM dari bawah. Jika koperasi desa berjalan sehat dan aktif, UMKM lokal punya ekosistem yang menopang — dari sisi permodalan, jaringan distribusi, hingga akses pasar.
Indonesia Emas 2045 menjadi cakrawala yang disebut Labib. Tapi jalan menuju sana, menurutnya, dibangun dari desa-desa yang mandiri secara ekonomi dan dipandu oleh generasi muda yang melek peluang.
Pelantikan pengurus DPD KNPI Lamongan itu pun menjadi lebih dari sekadar seremoni organisasi. Ia berubah menjadi panggung deklarasi: bahwa koperasi desa bukan proyek masa lalu yang usang, melainkan instrumen masa depan yang menanti tangan-tangan muda untuk menggerakkannya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.