Sesi ini bukan kuliah formal. Peserta diajak menjajal, bertanya, bahkan mencoba sendiri bagaimana AI bekerja. Bagi sebagian besar dari mereka yang berasal dari daerah-daerah yang jauh dari pusat teknologi, pengalaman ini menjadi pintu pertama menuju dunia digital yang selama ini terasa asing.

Setelah dunia digital, peserta berpindah ke dunia yang lebih dekat dengan alam: produksi madu. Di sinilah Taman Lebah benar-benar hidup sesuai namanya. Para peserta diperkenalkan pada siklus hidup lebah, proses pengumpulan nektar, hingga tahap pengolahan madu yang dilakukan secara alami dan berkelanjutan.

Bukan hanya soal teknik, kegiatan ini menyisipkan pesan yang lebih dalam: bahwa alam memiliki sistemnya sendiri yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Lebah, makhluk kecil yang kerap diabaikan, ternyata memegang peran vital dalam keseimbangan ekosistem bumi.

Melengkapi hari yang padat itu, sesi energi terbarukan membawa peserta ke diskusi tentang masa depan planet. Mereka belajar bagaimana sumber energi seperti matahari dan angin bisa dimanfaatkan tanpa melukai bumi. Bagi generasi yang akan mewarisi perubahan iklim sebagai salah satu tantangan terberat abad ini, pengetahuan ini bukan pilihan—ini kebutuhan.

Keseluruhan kegiatan di Taman Lebah berlangsung dengan antusias yang tidak dibuat-buat. Peserta bergerak dari satu pos ke pos berikutnya dengan semangat yang terjaga, berinteraksi lintas daerah, berbagi cerita, dan membangun persahabatan yang—seperti semua hal terbaik dalam hidup— paling subur justru di luar ruang kelas.



Follow Widget