Summarize the post with AI
TEHERAN, PUNGGAWANEWS – Iran menyatakan akan kembali membuka akses pelayaran di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata 10 hari antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon. Langkah ini memicu optimisme baru terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut jalur vital perdagangan energi global tersebut kini “sepenuhnya terbuka” bagi kapal-kapal komersial. Selat Hormuz sebelumnya ditutup sejak eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.
Pengumuman itu langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak dunia anjlok lebih dari 9 persen ke kisaran US$90 per barel, mencerminkan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan global.
Pernyataan Teheran muncul seiring kepatuhan awal terhadap gencatan senjata yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kesepakatan ini dinilai sebagai titik terang setelah konflik berkepanjangan yang melibatkan Israel dan Hezbollah turut menghambat negosiasi antara Washington dan Teheran.
Trump mengklaim Iran telah menunjukkan kelonggaran signifikan dalam perundingan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung tujuh pekan. Ia bahkan membuka kemungkinan tidak perlu memperpanjang gencatan senjata dua pekan yang dimulai awal April.
“Iran ingin mencapai kesepakatan dan kini bersedia melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka tolak,” ujar Trump. Ia menambahkan, proses negosiasi berjalan positif dan berpotensi menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat.
Meski demikian, pemerintah Iran belum secara resmi menanggapi klaim tersebut, terutama terkait isu sensitif program nuklir. Trump menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir dan menutup peluang kompromi atas penghentian pengayaan uranium secara permanen.
Optimisme terhadap deeskalasi konflik turut tercermin di pasar keuangan global. Indeks saham utama di Wall Street bahkan ditutup pada rekor tertinggi, didorong harapan berakhirnya ketegangan geopolitik.
Di lapangan, tanda-tanda meredanya konflik juga terlihat. Hezbollah menghentikan serangan roket ke wilayah Israel, sementara suasana perayaan muncul di Beirut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah awal menuju perdamaian yang lebih luas.
Trump menyatakan pihaknya akan terus berperan aktif menjembatani kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan jangka panjang. Ia juga mengaku telah berkomunikasi dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sebelum pengumuman gencatan senjata, serta berencana mengundang para pemimpin terkait ke Gedung Putih.
Selat Hormuz sendiri memiliki peran strategis sebagai jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupannya selama konflik telah memicu lonjakan harga energi serta kekhawatiran terhadap inflasi global.
Di tengah dinamika tersebut, Amerika Serikat tetap menunjukkan sikap tegas. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan kesiapan militer AS untuk kembali beroperasi kapan saja jika situasi memburuk. Sementara Iran memperingatkan bahwa blokade berkepanjangan dapat dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Upaya diplomasi terus berlangsung. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, melakukan kunjungan ke Teheran sebagai bagian dari mediasi antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Pakistan juga menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi kedua negara, meski belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Trump bahkan membuka kemungkinan kunjungan ke Pakistan apabila kesepakatan damai berhasil dicapai. Ia menyebut sebagian besar poin perundingan telah disepakati, tinggal menunggu finalisasi.
Meski sejumlah perbedaan mendasar masih membayangi, gencatan senjata di Lebanon dinilai dapat menjadi momentum penting untuk mendorong penyelesaian konflik yang lebih luas di kawasan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.